Kamis, 27 Juni 2013

RUKYAH DAN HISAB SATU TEKHNIS

Kenyataan geografis dari setiap tempat mempengaruhi perbedaan waktu. Bila ingin menyamakan waktu di suatu tempat dengan waktu di tempat lain yang berjauhan, berarti kita mengabaikan kenyataan alam. Mengabaikan kenyataan bahwa bumi berputar dan beredar mengelilingi matahari, sehingga ada kalanya satu sisi mengalami terang dan gelap secara bergiliran. Saya kira, kalau soal itu kita semua pasti tahu. Tapi yang mengherankan adalah terjadinya perbedaan tanggal 1 Ramadhan dan atau 1 Syawal di desa, atau kota, atau negara yang sama. Mengapa hal itu bisa terjadi bila masalahnya adalah masalah geografis. Contoh sederhana, bila saat ini di Amerika adalah malam, maka di seluruh Indonesia adalah siang. Bila di Jakarta misalnya tanggal 1 Syawal, maka di seluruh Indonesia juga tanggal 1 Syawal. Tapi, mengapa selama ini sering terjadi di satu tempat (desa, kota) yang sama di Indonesia terjadi perbedaan tanggal 1 Ramadhan atau 1 Syawal? Itu terjadi karena adanya mazhab-mazhab, yang melakukan penentuan waktu dengan cara-cara yang berbeda. Akibatnya yang satu mengatakan sudah tanggal 1 Ramadhan atau Syawal, yang lain mengatakan belum. Apa ini tidak lucu? Tidak hanya lucu, tapi juga menyedihkan, bahkan kadang mengerikan, karena perbedaan itu ada kalanya menimbulkan pertumpahan darah.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Bukankah tadi sudah kita singgung, itu terjadi karena ada perbedaan dalam cara menghitung penanggalan. Tepatnya, yang satu menggunakan cara ru’yah, yang lain memakai cara hisãb. Kalau anda disuruh memilih, anda mau pilih yang mana? Ru’yah atau hisãb? Tapi, ada yang bilang, “kok masih pake ru’yah? Kuno amat! Wong gerhana aja bisa diramal sampe ke detiknya pake ilmu hisãb!”Nah! Itu omongan yang terdengar seperti pintar dan modern, tapi sebenarnya gegabah. Di mana letak gegabahnya? Di situ ada salah paham, Omongan itu mewakili anggapan bahwa ru’yah dan hisãb adalah dua hal yang terpisah dan berbeda, bahkan bertentangan (dikotomis). Padahal, keduanya adalah cara yang diajarkan Rasulullah. Jelasnya bagaimana ada banyak hadis, dalam kitab Bukhari-Muslim, yang menegaskan bahwa kewajiban shaum (puasa) Ramadhan harus dilakukan dengan cara melihat hilãl; begitu juga halnya ‘Idul-Fitri, ditentukan dengan melihat hilãl. Bila di awal atau di akhir bulan hilãl tertutup awan, maka genapkan bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Jadi, ketentuannya dengan cara “melihat” ? Istilahnya ru’yatul-hilãl, melihat bulan sabit tipis. Itu yang mendasari ilmu ru’yah, yang di Indonesia diterapkan oleh Nahdlatul-Ulama (NU)?

Barangkali itulah yang dipahami ulama, terutama ulama Indonesia. Bukan hanya NU tapi juga Muhammadiyah dan lain-lain, yang menggunakan cara hisãb, telah melakukan kekeliruan yang amat mendasar, yang justru membawa penyakit pada umat, yaitu penyakit perpecahan, khususnya karena perbedaan tanggal 1 Ramadhan dan atau Syawal. Kekeliruan mendasar itu ialah beranggapan bahwa melalui sabdanya tersebut Rasulullah mengajarkan “ilmu” atau tepatnya “teknik” (= cara) ru’yah. Dan ru’yah itu hanyalah satu cara yang sayangnya oleh sementara orang dianggap sebagai cara kuno. Karena ru’yah itu hanya salah satu cara, tentu ada cara lain, yaitu hisãb, yang lucunya dianggap sebagai cara modern.  Padahal, baik ru’yah maupun hisãb, keduanya diajarkan oleh Rasulullah dalam hadis-hadis tersebut.

Muhammadiyah, menggunakan dalil surat Yunus ayat 5? Ayat itu menegaskan, pertama, bahwa Allah menjadikan matahari sebagai sumber cahaya dan bulan sebagai pemantul cahaya matahari (ke bumi). Kedua, ditegaskan pula oleh Allah, bahwa bulan itu tidak diam, tapi bergerak (beredar) dari satu manzilah (garis dan posisi edar; orbit) ke manzilah lain. Dua kenyataan itulah, kata Allah, yang membantu manusia untuk mengetahui jumlah atau perhitungan (hisãb) tahun. Tapi, Muhammadiyah dan kawan-kawan mengklaim bahwa ayat ini adalah dalil bagi penanggalan dengan teknik hisãb.

Mereka terlalu cepat dalam menyimpulkan jika ayat ini adalah landasan bagi teknik hisãb. Di mana letak gegabahnya ? Pertama, secara tidak langsung mereka sudah beranggapan bahwa perkataan Rasulullah itu salah, karena ‘bertentangan’ dengan Al-Qurãn. Atau, bisa jadi, secara tidak langsung, mereka menganggap hadis-hadis tersebut palsu atau tidak sahih. Kedua, mereka sangat keliru bila mengatakan bahwa surat Yunus ayat 5 itu adalah dalil tentang teknik hisãb, karena sebenarnya ayat itu sama sekali tidak bertentangan dengan hadis-hadis Rasulullah. Keduanya, baik Allah maupun RasulNya, sama-sama bicara tentang ru’yah dan hisãb, yang merupakan teknik gabungan untuk menentukan penanggalan.

“Peredaran bulan di sekeliling bumi itu diketahui dengan cara apa? Peredaran bulan itu diketahui tentu dengan cara melihatnya atau mengamatinya, baik dengan mata telanjang maupun dengan menggunakan alat bantu, teropong. Penglihatan atau pengamatan itulah yang disebut ru’yah. Dan ru’yah itulah yang merupakan teknik pertama dan utama. Kenapa di katakan ru’yah sebagai teknik pertama? Karena itulah yang diajarkan oleh Rasulullah, dan itulah memang realitas tindakan yang kita lakukan untuk menentukan penanggalan atau kelenderisasi. Lantas, hisãb adalah teknik kedua, alias sekunder? Bisa dikatakan teknik kedua, bisa juga dikatakan pelengkap bagi teknik pertama. Sebab, seperti dikatakan Rasulullah, bila pengamatan (ru’yah) gagal, karena bulan tertutup awan, maka genapkanlah jumlah hari (khususnya di sini bulan Sya’ban dan Ramadhan, untuk menentukan tanggal 1 Ramdhan dan 1 Syawal) menjadi 30 hari. Mengapa harus digenapkan 30 hari? Karena kita menggunakan penanggalan bulan (lunar calendar), dan Rasulullah menegaskan bahwa jumlah harinya adalah antara 29 dan 30. Bulan apa saja yang harinya 29 dan 30? Semua bulan mempunyai kemungkinan yang sama, yaitu bisa 29 dan bisa 30 hari. Rasulullah, misalnya, semasa hidupnya, beliau sempat berpuasa sebanyak 9 kali.

Menurut analisis astronomi  yang dilakukan Dr. T. Djamaluddin, ketika itu enam kali Ramadhan jumlah harinya 29, dan tiga kali Ramadhan jumlah harinya 30. Tetapi Kalender Masehi, jumlah hari dalam bulan-bulan tertentu itu selalu sama, yaitu 30 dan 31 hari, kecuali bulan Februari, yang kadang 28 hari di tahun-tahun biasa, dan 29 hari di tahun kabisat, yaitu 4 tahun sekali. Itu benar adanya, karena kalender Masehi berdasar peredaran bumi mengelilingi matahari (solar calendar). Kalau begitu, kalender matahari lebih unggul dari kelender bulan ? Sebenarnya tidak ada yang lebih unggul. Keduanya dimungkinkan dan dibenarkan oleh Allah demi kepentingan tertentu. Kalender matahari, cocok untuk pemastian musim. Dr. T. Djamaluddin, peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa dari Lapan, Bandung, mengatakan bahwa kegiatan yang berkaitan dengan musim, seperti pertanian, pelayaran, perikanan, dan migrasi, cocoknya menggunakan kalender matahari. Tapi, ingat! Kata beliau, kalender matahari tidak bisa menentukan pergantian hari dengan cermat. Padahal, kepastian hari itu diperlukan dalam kegiatan agama. Kepastian itu hanya bisa didapat melalui kalender bulan!

Melalui faktor apa kepastian itu didapat? Faktor hilãl, alias bulan sabit tipis, yang bisa dilihat dari bumi walau dengan mata telanjang. Dan hilãl pula yang memastikah jumlah hari dalam sebulan adalah 29 atau 30? Faktor inilah yang membuat teknik hisãb murni menjadi ‘mentok’, alias tidak bisa berlaku. Apa yang di maksud dengan hisãb murni? Yang disebut hisãb itu dalam istilah sekarang adalah perhitungan astronomi, yaitu ilmu tentang benda-benda langit (bintang-bintang, planet-planet, dan sebagainya). Kata Dr. T. Djamaluddin pula, “Berdasarkan pengalaman ratusan tahun, keteraturan periodisitas fase-fase bulan diketahui dengan baik, lahirlah ilmu hisab untuk mengetahui posisi bulan dan matahari. Akurasinya terus ditingkatkan, hingga ketepatan sampai detik dapat dicapai. Ketepatan penentuan waktu gerhana matahari, yang hakikatnya ijtimak yang teramati, sampai detik-detiknya merupakan bukti yang tak terbantahkan. Nah berdasar itu lah bahwa teknik ru’yah adalah katanya kuno ! Itu terlalu gegabah! Coba anda perhatikan kutipan tadi, “Berdasarkan pengalaman ratusan tahun waktu gerhana matahari, yang hakikatnya ijtimak yang teramati, “Ingat, kata-kata pengalaman dan teramati itu menegaskan kegiatan ru’yah (melihat, mengamati), hal ini sebenarnya menegaskan bahwa apa yang disebut teknik hisãb itu sebenarnya diawali dengan ru’yah atau pengamatan. Jadi, boleh dikatakan bahwa hisãb itu adalah kelanjutan dari ru’yah.

Bottom of Form



>>Guruku, DU<<

4 Pilar Ajaran Allah

Pilar pertama dari ajaran Allah ialah Iman.

Apa arti Iman ? Iman itu ialah tambatan hati dengan satu ajaran, yang diucapkan sesuai kemantapan dan diamalkan dengan satu teladan. Iman bukan diukur dengan ucapan, karena ucapan tidak selamanya sesuai dengan hati, tetapi lebih tepatnya Iman itu ialah tanggapan hati yang diujudkan kedalam tindakan yang diterjemahkan dengan : Berpandangan dan bersikap. Ada dua model Iman, yaitu Iman yang haq dan Iman yang Bathil, yu'minuuna billah dan yu'minuuna bil bathil atau yu'minuuna bil jibti waththaguuti. Iman juga diuraikan oleh Allah dengan kalimat, maunya Orang beriman itu mengikuti maunya Allah, tidak ada maunya sendiri atau bisa dikatakan “Orang yang sangat cinta untuk hidup dengan ajaran Allah menurut Sunnah Rasul-Nya”. Kenapa sekarang Iman hanya diartikan : Percaya ? Itu karena ulah Mua'wiyyah yang membuat fatwa : Al-Imaanu aqdun bil qalbi faqad Iman itu hanya percaya saja. Dasar Muawiyah yang gila kekuasaan sehingga berani dia merubah kalimat Allah dan Hadis Nabi. Bagaimana mau hidup yang enak ya klo Iman masih = percaya. Jika umat islam ingin jaya seperti umat di zaman rasul dahulu kata Al quran “Maa kunta tadrii malkitab walal Iman”, kuasai Al-Qur'an dan praktekkan dalam kenyataan hidup Insyaa Allah Indonesia akan jaya dimata dunia, dg sitim ekonomi zakat, bukan sistim ekonomi riba seperti sekarang ini !!

Pilar kedua ialah : Maa huwal Islam ?

Banyak para ulama masih mengganggap bahwa Iman dan Islam itu satu, walaupun memang ke duanya tidak bisa dipisahkan. Iman itu adalah dasar hidup, sedangkan Islam itu adalah tekhnik atau penataan hidup. Jika bangunan maka Iman itu adalah Pondasi, dan Islam itu adalah bangunannya. Pembinaan Islam itu ada lima , yaitu  Islam satu penataan pribadi, Islam satu penataan Rumah tangga, Islam sebagai penataan masyarakat terbatas dengan Shalat Jum'at sebagai pembinaan mingguan, Islam satu penataan negara dengan shalat Idul Fithri sebagai pembinaan tahunanya, dan Islam sebagai penataan Muslim sedunia dengan Shalat Idul Adha.


Pilar dari ajaran Allah yang ketiga ialah : Maa huwal Ihsan ?

Jikalau ditanya apa tujuan hidup ummat Islam, pasti jawabnya “ Mau menyembah kepada Allah”. Apa iya tujuan kita hidup adalah menyembah Allah ? Padahal : Ihsan itu ialah anda berbuat seakan-akan Ajaran Allah Al-Qur'an menurut Sunnah Rasul itu sudah menjadi kepribadian anda, atau jika tidak bisa maka seakan-akan seluruh Perintah dan larangan Allah selalu menyoroti/cctv kehidupan anda". Oleh karena itu, setiap saat, tujuan hidup ini harus melekat dalam memori manusia yang mau beriman, sehingga Iman sebagai dasar hidup, dan Islam sebagai penataannya maka bisa mencapai Ihsan sebagai tujuan hidupnya, yaitu menjadikan Al-Qur'an menurut Sunnah Rasul-Nya sebagai akhlak kepribadiannya. Itulah uswah yang ditinggalkan Rasulullah, yang telah menjadi teladan bagi manusia yang mau beriman.

Pilar keempat dari ajaran Allah ialah : Sa'ah satu management !

Jibril bertanya kepada Nabi kapan datangnya Sa'ah ? Jawab Nabi, yang bertanya lebih tahu dari yang ditanya. Untuk sekedar tanda-tandanya ialah : apabila budak telah melahirkan majikannya (demokrasi). Jika kita bandingkan dengan Islam yg kita lihat sekarang ini, dimana Islam adalah dasar organisasi, tujuan menegakkan Islam, managementnya diambil dari Barat, itulah sebabnya kenapa umat Islam sekarang ini selalu menjadi obyek permainan politik para Penguasa di dunia. Sudah saatnya Umat islam bangkit dengan ajaran Allah, dimana Iman sebagai dasar, melalui Islam sebagai organisasinya dan Ihsan sebagai tujuan, serta Sa'ah sebagai managementnya, maka Kelak Ummat Islam akan menemui kepribadian Muhammad Rasulullah, bukan kepribadian seperti sekolah yang runtuh karena ditelan zaman dan rapuh dimakan usia..!!



>>Guruku, DU<<

Siapakah SETAN ?

Setan menjadi TUHAN bukan saja karena itu adalah sebuah pilihan yang selaras dengan kemampuan tetapi juga karena didukung oleh kebodohan dan kepengecutan para hambanya. Setan adalah sifat yang kemudian diadopsi menjadi sebentuk tindakan nyata. Di dalam QS 7: 22 …INNASYSYAITHOONA LAKUMA ‘ADUWWUMMUBIIN, menyatakan bahwa SETAN adalah musuh yang demikian terang /“nyata”.

QS ANNAS menegaskan bahwa SYAAR la’natullah adalah bermula dari satu “waswaasha” (sejenis sifat ragu akibat “membanding-bandingkan) kemudian menimbulkan subjectif ke-aku-an: baik ketika diri merasa lebih merana dan/ orang merasa lebih unggul. Ketika merasa lebih merana, sifat itu menggiring manusia ke dalam kecemburuan atas kelebihan orang lain, dan ketika merasa lebih unggul dia memposisikan manusia ke dalam maqam kesombongan. Manusia adalah satu2nya oknum kehidupan yang mampu mewadahi 2 jenis dimensi yang berlainan : JIN dan MALAIKAT. Namun “fitrah” dasar manusia yang sebenarnya mengarah pada MALAIKAT sering kali mampu dikalahkan oleh dimensi jin.

Al qur’an adalah buku yang menyikapi setiap taktik dan jerat tipu daya setan dalam rangka menyesatkan manusia dari jalan hidup para rasul Allah. Dia tidak senang jika menyaksikan anda mempelajari siasat-siasatnya dalam berperang dengan anda, dan dia berusaha keras dengan segenap kemampuannya untuk mnjadikan Al quran itu seakan-akan sebuah buku yang penuh kegelapan dan kesulitan sehingga anda akan beranggapan demikian dan kemudian berhenti untk mengkaji dan memahami buku tsb. Setan telah menggunakan taktik seperti ini pada semua orang “shaleh”, dan ia pun sedang menggunakan strategi yang sama untuk mengalahkan kita. SIAPA YANG AKAN MENJADI PEMENANG PERANG ABADI INI…???

Al Quran memaparkan berbagai hal mengenai manusia yang sungguh luar biasa dan menawan hati. Bahkan sesungguhnya tujuan utama buku ini adalah untuk menolong kita memandang diri sendiri dalam satu rangkaian keterangan yang menakjubkan! Fakta sederhana telah dikemukakan oleh Al quran bahwa semua manusia tanpa terkecuali memiliki kemampuan yang sama untuk hidup selamat dan / hidup celaka. Tragedi terbesar dan paling hebat dari “dosa” bukanlah ketika adam menyantap buah khuldi, tetapi ketika dia tertipu setan dan terjerumus dalam ketdkpatuhan shg dia celaka. Al quran membentangkan fakta bahwa baik allah maupun setan sama2 menghendaki anda mengabdikan diri. Menyedihkan sekali bahwa jutaan manusia justru mengabdikan diri mereka kpd setan tanpa mereka sadari.


Kabar mengejutkan, Al quran menyatakan bhwa kebanyakan dari manusia bhkan yang mengira mereka hidup dalam “kebaikan” dan baik2 saja pada hakikatnya tengah menuruti “kehendak” setan. Mitos yang menyatakan bahwa setan tdk bisa dilihat telah menyebabkan bnyk orng beranggapan bahwa setan hanya lah dongeng belaka. Justru dari situlah setan mengkokohkan tipu muslihatnya.
Jauh sebelumnya IBLIS telah lebih dulu mempelopori ide pmberontakan, karena si jahat ini merasa sistim khidupan yg dia terapkn JAUH LEBIH BAIK dr aturan yg ditunjukkn ALLAH.
Utk meladeni tantangn iblis inilah para rasul diutus, dg dibekali buku instruksi yg mnjelaskn tentang berbagai tipu daya IBLIS, buku itu adl AL QUR'AN.



>>Guruku, DU<<

Pergeseran IMAN !

Bismillaahirrahmaannirrahiim

Sejarah menurut pengertian umum ialah silsilah, asal-usul (keturunan), Kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lampau, riwayat dan lain sebagainya.
Yang kita maksudkan dengan Sejarah Pergeseran Iman ialah peristiwa yang terjadi ketika terjadi pergeseran dari Iman yang Hak menjadi Iman Bathil yang telah ditulis dan menjadi catatan sejarah.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Sejarah Nabi Muhammad SAW dimulai dari seorang anak yatim piatu, yang lahir pada tanggal 20 April tahun 571 M, yaitu tahun dimana Bangsa Ethiopia menyerang Mekah untuk meruntuhkan Kabah dibawah pimpinan Abrahah.
Ayahanda Muhammad bernama Abdullah bin Abdul Muthalib meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan. Ibunya pun meninggal ketika Muhammad telah berusia enam tahun. Ketika Muhammad berusia 9 tahun kakeknya Abdul Muthalib meninggal dunia dan Muhammad diasuh oleh Pamannya yaitu Abu Thalib. Pada umur yang masih 9 tahun itu Muhammad bekerja sebagai Pengembala Kambing di Mekah, dan sesekali berniaga mengikuti Pamannya ke negeri Syam (Syria). Budi-pekertinya yang jujur dan terkenal dikalangan bangsa Quraisy kemudian ditempa oleh pengalaman dalam perjalanan harus siap tempur terhadap serangan orang Badwi yang akan merampok harta dagangan mereka, Muhammad tumbuh sebagai seorang pemuda pemberani dan tidak pernah takut menghadapi apapun demi kebenaran, sehingga beliau digelari orang dengan “al-Amin” yang memegang amanah atau yang lurus.

 Mekah yang masih jahiliyyah berhasil dikembalikan menjadi berkehidupan Nur menurut Sunnah Rasul, dari Iman Bathil yang negatip dengan Ajaran Allah menjadi Iman Hak tegak di bumi ini melalui perjuangan darah dan air mata.
Kehidupan yang individu dirombak menjadi hidup berjamaah, kehidupan sesama Muslim/Mukmin seperti satu tubuh, dimana bila ada yang sakit maka semua akan merasakan sakit, kehidupan yang saling nista, saling tipu, pembunuhan sewenang-wenang seperti hukum rimba, perzinahan dimana-mana semuanya telah dibersihkan dengan Syariat Allah, Ekonomi ditata dengan system ekonomi zakat, dimana pemimpin mengambil lebih sedikit dai pada yang dipimpin, yatim piatu, orang miskin, semuanya mendapatkan perlindungan tanpa syarat..

Ketika Nabi Muhammad wafat, maka Amiiril Mu’miniin jatuh ketangan Abu Bakar, namun bibit perpecahan mulai tampak karena Abu Bakar mulai memerangi kabilah-kabilah ‘Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintahan Madinah.

Pertikaian antara kabilah-kabilah Arab memang sudah terjadi sejak lama, sehingga mereka masuk Islam itu hanya karena terpaksa daripada dipermalukan sebagai tawanan perang alias menjadi budak karena ditawan, namun kebiasaan mereka untuk pekerjaan-pekerjaan seperti minum tuak yang memabukkan, berjudi dan lain-lainnya masih merupakan godaan bagi mereka sehingga ketika situasi meningalnya Nabi Muhammmad SAW maka mereka beranggapan inilah kesempatan melepaskan diri dari penjajahan Quraisy. Abu Bakar pun mulai mengadakan tidakan tegas dengan berlakunya perang kepada mereka yang biasa membayar zakat kemudian membangkang, maka Islam mulai dikembangkan keluar Mekah dan Madinah. Hanya saja karena umur Abu Bakar telah sampai kepada azal beliau maka perluasanan pengembangan Islam diteruskan oleh Khalifatullah setelah Abu Bakar yaitu Umar bin Khatab.

Kepemimpinan Umar telah berhasil meluaskan wilayah Islam sampai ke Mesir, perang demi perang terjadi oleh pasukan Muslim yang gagah berani, dan disini tidak banyak kita uraikan karena Iman Haq masih tegak dibumi ini oleh para sahabat Nabi, kita hanya menyinggung sedikt ketika Umar wafat karena ditusuk oleh seorang sahaya bangsa Persi berasal dari tawanan perang di Nahawand yaitu sahaya dari Mughirah bin Syu’bah, Fairus namanya dan dpanggil juga dengan nama Abu Lu’lu yang amat dengki, da sakit hati kepada Khalifah Umar, karena Umarlah kerajaan Persia lenyap dari muka bumi ini.

Khalifah Umar ditikam ketika sedang shalat subuh. Inilah pertama kali seorang pemimpin Islam yang bijaksanan dibunuh oleh golongan munafik yang sedang menanti saatnya untuk mengembalikkan Islam kepada kehidupan jahiliyyah.

Sebelum meningal Umar menyampaikan enam sahabat yang akan dipilih oleh umat Islam pada saat itu, yaiu Ali bin Abithalib, Usman bin Affan, Zubaer bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin Auf dan Talhah bin Ubaidillah. Menurut wasiat Umar siapa yang memperoleh suara terbanyak maka dialah yang harus dianggkat sebagai Khalifatullah menggantikan dirinya. Jikalau suaranya sama maka, maka harus dipilih calon yang disetujui oleh Abdullah bin Umar.Dan akhirnya pilihan jatuh kepada Usman bin Affan.

Kepemimpinan Usman bin Affan memang tidak sehebat Pendahulunya, Abu Bakar dan Umar, diumur yang sudah mulai lanjut itu Usman banyak mengangkat familinya untuk duduk dipemerintahannya. Amru bin Ash Wali Mesir dipecatnya dan diganti dengan Abdullah bin Sa’ad saudara sesusunya. Wali Basrah Abu Musa al Asy’ari digantinya dengan Abdullah bin Amir keluarga Usman juga, Mu’awiyah bin Abi Sufyan Wali Syam masih tetap dalam jabatannya. Untuk penasehatnya diangkatlah Marwan bin Hakam masih kerabatnya jua.
Semua yang berpangkat tinggi di zaman Usman bin Affan dari keluarga Usman semuanya sehingga Daulat Islam pada saat itu seakan-akan telah menjadi daulat keluarga Bani Umayyah.

Perbuatan ganjil itu tidak saja memberikan pangkat yang tinggi kepada keluarganya, tapi juga membelanjakan harta benda negara menurut cara yang belum pernah dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar apalagi Nabi Muhammad SAW. Kepada Abdullah bin Sa’ad diberikan hak menguasai seperlima dari harta rampasan perang yang diperoleh di Afrika. Dan kepada kaum Quraisy dizinkan memiliki tanha-tanah di Irak dan Syam dan daerah-daerah lain, yang menyebabkan timbulnya kebencian penduduk negeri-negeri itu kepada pemerintahan Usman. Siasat Usman itu akhirnya menimbulkan kemarahan kaum Muslimin, karena Wali-Walinya memungut zakat terlalu tinggi sehingga makin memperbesr api kemarahan kepada Pemerintahan Usman.

Dalam situasi yang tidak menguntungkan itu, maka tampillah seorang penghasut berkebangsaan Yahudi bernama Abdullah bin Saba, menambah berkorbarlah api kemarahan Umat kepada Usman. Dia mengembara kekota-kota besar, dengan menyebarkan fithnah tentang Usman dan Wali-Walinya. Fitnah itu disebarkan di Hijaz, Bashrah, Kufah, Syam dan akhirnya Mesir. Di Mesir dia membuat fitnah sejadi-jadinya sehingga dia berani bersumpah bahwa Nabi Muhammad pernah berwasiat agar pangkat Khalifah supaya diberikan kepada Ali dan hanya Ali sajalah yang berhak menjadi Khalifah. Hasutannya ini termakan oleh rakyat dan mereka berpendapat bahwa Usman mengambil pangkat Khalifah dengan jalan yang tidak benar. Yaitu melanggar wasiat Rasulullah SAW.

Ibnu Saba dengan pengikut-pengikutnya yang di Masir, di Bashrah dan Kufah telah sepakat akan datang ke Madinah membuat perhitungan dengan Khalifah kalau perlu dengan kekerasan.

Maka timbullah huru hara dimana-mana dan Pasukan dari Mesir yang akan menghadap Khalifah Usman telah tiba pula di Madinah.
Mereka itu enam ratus orang banyaknya dipimpin oleh Muhammad bin Abu Bakar dan Muhammad bin Abi Huzaifah. Tujuan mereka adalah meminta kepada Khalifah Usman agar menggantikan sekalin Wali-Walinya dan memecat Sa’ad Wali Mesir. Permintaan mereka disetujui oleh Usman, Abdullah bin Sa’ad dipecat dan digantikan dengan Muhammad bin Abu Bakar.

Keputusan Usman itu menyenangkan hati pasukan dari Mesir dan merekapun bergegas untuk kembali ke Mesir. Akan tetapi dalam perjalanan pulang, mereka menangkap seorang kurir yang membawa surat kepada Wali Mesir yang masih berkuasa, yang ditulis oleh Marwan bin Hakam dan distempel oleh Usman. Isi surat itu adalah perintah kepada Wali Mesir Abdullah bin Sa’ad supaya menindas dan menghukum sekalian kaum pemberontak. Setelah mengetahui adanya penghianatan itu pasukan itu balik kembali ke Madinah, ternyata Usman menyangkal dan bersumpah tidak pernah membuat surat seperti itu, namun api kemarahan telah berkorbar dan Usman harus bertanggung jawab atas semua itu.

Kemudian Pasukan dari Mesir itu meminta agar Marwan diserahkan kepada mereka untuk dihukum, namun Usman keberatan. Situasi demikian kacau, Usman dikepung sampai 40 malam lamanya dan berakhir dengan terbunuhnya Usman bersama Isterinya. Kejadian ini terjadi pada tahun 35 H atau 656 M.

Pemerintahan Ali bin Abi Thalib dimulai dengan dibaiatnya Ali ketika Usman telah terbunuh. Oleh karena situasi sangat kacau maka langkah pertama Ali adalah mengganti semua Wali-Wali yang diangkat oleh Usman. Beberapa sahabat menasehatkan agar Ali membatalkan niatnya, tapi Ali tetap teguh akan mengganti semua Wali-Wali yang diangkat Usman yang dianggap tidak cakap dalam mengusrus Negara.

Siasat Ali ini akhirnya membikin Umat islam terbelah menjadi tiga golongan. Ada golongan pendukung Ali bin Abi Thalib, ada golongan yang menjadi keluarga Usman yang sedang menuntut balsa atas wafatnya Usman dan Isterinya yaitu dibawah pimpinan Mua’wiyah bin Abi Sufyan, dan golngan ketiga adalah golongan yang anti Ali karena dianggap pengangkatan Ali itu tidak syah dipimpin oleh Thalha, Zubaer dan ‘Aisyah.

Khalifah Ali telah memecat Mua’wiyah dari jabatannya akan tetapi dia tidak mengindahkan pemecatan itu dan terus saja memimpin sebagai Wali di Syam. Maka Ali bersiap akan berperang dengan Mu’awiyah. Ketika Ali akan berangkat ke Syam, datanglah berita dari Mekah bahwa orang Mekah telah menghianatinya yang dipimpin oleh Thalhah, Zubaer dan ‘Aisyah. Mereka telah menduduki kota Bashrah dengan tentara yang besar dipimpin oleh ‘Aisyah pada tahun 36 H (657M).

Mendengar berita yang demikian maka Ali-pun membatalkan penyerangan ke Syam, dan dengan segera Ali dengan 200.000 tentara berangkat ke Kuffah terus ke Bashrah. Di Bashrah Ali bertemu dengan tentara Aisyah lalu terjadi pertempuran yang terkenal dengan nama Waqi’atul Jamal (Perang berunta). Dinamakan demikian karena Aisyah yang memimpin tentaranya mengendarai unta..

Dalam peperangan itu Ali memperoleh kemenangan, Thalha dan Zubaer mati terbunuh dan Aisyah ditawan, namun Ali tidak menawannya akan tetapi diantar pulang ke Mekah dan dinasehati agar tidak mencampuri urusan politik.

Bisa anda bayangkan, Menantu melawan Mertua, karena Aisyah adalah Isteri Nabi, sedangkan Ali adalah menantu Nabi, Muslim membunuh Muslim, inilah yang ditangisi oleh Nabi.

Perang berunta telah berakhir, namun persoalan Negara baru mulai memasuki konplik yang sesungguhnya. Bani Hasyim melawan Bani Umayyah..Bani Umayyah yang dipimpin oleh Mua’wiyah menuduh bahwa yang membunuh Usman adalah atas campur tangan Ali.
Ali pun mendapat kabar bahwa Mu’awiyah akan menyerang pasukan Ali, maka Alipun bersiap-siap menyambut kedatangan pasukan Mu’awiyah. Di Siffein, disebelah barat sungai Elfrat bertemulah pasukan Ali dengan pasukan Mu’awiyah. Pihak Ali hampir menang, Mu’awiyah akan melarikan diri, maka dikala itulah muncul idea dari Amru bin Ash. Amru menyuruh pasukannya menusuk Al-Qur’an dengan tombak dan mengajak pihak lawan untuk kembali kepada Al-Qur’an sebagai mana wasiat Nabi. Ali tidak setuju dan mengatakan bahwa itu hanya siasat Mu’awiyah tetapi karena desakan pasukan yang kuat akhirnya dapat diterima bahwa sengketa perbedaan pendapat akan diselesaikan melalui jalur politik.

Tentara Ali mundur ke Kuffah dan Mua’wiyah mundur ke Syam. Kedua belah pihak mengirim utusan sebanyak seratus orang dimana dari pihak Ali diwakili oleh Abu Musa Al-Asy’ari seorang tua yang jujur, sedangkan Mu’awiyah juga sebanyak seraus orang dipimpin oleh Amru bin Ash. Sebelum perundingan dimulai, sebagian besar tentara Ali membelot dari Ali, golongan ini yang dikemudian hari bernama golongan Khawarij, mereka tidak setuju dengan perundingan tetapi harus diselesaikan dengan perang yang sudah hamper pasti membawa kemenangan di pihak Ali. Jumlah mereka kira-kira 12.000 orang dan mereka mempunyai visi “Kekuasaan hanyalah ditangan Tuhan”.

Setelah tiba waktunya pertahkiman menurut perjanjian maka berkumpulah kedua belah pihak di Daumatul Jandal.
Dengan tipu daya yang licin maka Amru bin Ash mengatakan kepada Abu Musa Al-Asy’ari bahwa oleh karena biang keladi yang membuat terjadinya perpecahan pada umat ini karena adanya dua khalifah, maka untuk perundingan selanjutnya kedua khalifah haris diturunkan lebih dahulu untuk selanjutnya barulah Khalifah yang baru akan dipilih oleh Umat Islam.

Rupanya usulan Amru bina Ash mendapat persetujuan semua hadirin dan dinilai masuk akal. Kemudian tibalah saatnya masing-masing wakil menurunkan Khalifahnya, Amru bin Ash menurunkan Mu’awiyah bin Abi Soyan dan Abu Musa Al-Asy’ari menurunkan Ali bin Abi Thalib. Disini Amru menggunakan siasat yang luar biasa.. kata Amru bin Ash,: “Oleh karena menurut Hadits Nabi yang tua harus didahulukan dari yang muda, maka saya persilahkan kepada Abu Musa Al-Asy’ari untuk menurunkan Ali bin Abi Tahlib lebih dahulu dari jabatan Khalifah.
Maka Sejarahpun mencatat Ali bin Abi Thalib diturunkan oleh wakilnya sendiri dari jabatan Khalifatullah kaum Muslimin. Apa yang terjadi setelah itu? Amru bin Ash kemudian naik keatas mimbar dan berpidato : “Bahwa setelah Ali bin Abi Thalib diturunkan sebagai Khalifah, maka saya dari wakil Mua’wiyah dengan ini menyatakan bahwa satu-satunya Khalifah Umat Islam adalah Mu’awiyah bin Abu Soyan”
Disini Abu Musa Al-As’ari telah dikalahkan oleh Amru bin Ash dalam diplomasi politik, sehingga mengecewakan semua pihak pendukung Ali....
Maka terjadilah perang dan huru hara di seluruh negeri dan Mu’awiyah mulai memecat semua Wali-Wali yang diangkat oleh Ali bin Abi Thalib.

Pada saat itu pihak Khawarij yaitu golongan yang keluar dari pasukan Ali karena tidak setuju dengan perundingan, ternyata membuat rencana untuk membunuh tiga tokoh yang dianggap paling bertanggung jawab dalam hal itu yaitu : Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abu Sofyan dan Amru bin Ash. Rupanya Muawiyah dan Amru cukup cerdik sehingga selamat dari pembunuhan, tapi tidak dengan Ali, belaiu wafat dengan pedang yang dilumuri racun ketika hendak shalat subuh di Mesjid Kufah ditangan bekas anak buahnya sendiri yang bernama Ibnu Muljam. Peristiwa ini terjadi pada 17 Ramadhan tahun 40 H atau 661M.

Sepeninggal Ali maka anak Ali bin Thalib yaitu Hasan diangkat sebagai khalifah, namun karena kalah pengalaman dengan Mu’awiyah maka akhirnya Hasan mundur dari Kufah dan bertahan di Madain. Terjadilah perdamaian antara Hasan dengan Mu’awiyah bahwa kelak bila situasi dudah aman, maka persoalan khalifah akan diserahkan kepada umat Islam untuk dipilih secara benar. Syarat yang diajukan Hasan agar Mu’awiyah tidak menjelek-jelekkan ayahanda Hasan yaitu Ali. Mu’awiyah setuju maka mulai sat itu Umat kembali dibawah satu pimpinan yaitu Dinasti Mu’awiyah.

Kemudian banyak kritik dari masyarakat kepada kehidupan pribadi Mua’wiyah, dimana Rasul hidup sederhana tapi Mu’awiya hidup mewah. Untuk mengatasi itulah maka Mu’awiyah membuat Majelis Ulama pertama yang terdiri dari para Alim Ulam untuk bersidang dengan hasil yang sudah diatur oleh Mu’awiyah bahwa “Al-Imaanu aqdun faqad” yang artinya “Iman itu adalah keyakinan dihati tok”. Dengan modal inilah dia bisa bertahan beberapa generasi untiuk bersembunyi dari kritikan Umat Islam bahwa hidup sebagai pemimpin itu haruslah sederhana tidak boleh boros atau bermewah-mwahan..

Sejak masa Mu'awiyah inilah Khalifah berlaku turun-temurun seperti yang kita saksikan sampai sekarang ini, banyak kerajaan Islam yang pemimpinnya adalah Feodalis bukan Mu'min yang rela dipilih oleh ummat dengan ihlas.
Dunia telah berobah muka, yang hak telah sirna dan yang bathil tampil menjadi idola manusia yang beragama Islam...dalam kegelapan perdaban...inilah kebyataan pahit yang harus kita terima.

Inilah pergeseran Iman yang Hak menjadi Iman yang Bathil. Bisa dibayangkan hanya dalam beberapa tahun saja ada tiga pemimpin Islam mati dibunuh oleh kalangan yang dekat dalam istana. Maha benarlah Rasul bahwa Khalifah setelahku berumur tiga puluh tahun.
Demikianlah sejarah singkat terjadinya pergeseran Iman dari Iman yang Hak menjadi Iman Bathil alias batal karena tidak ada lagi nilai dalam Iman Bathil itu kecuali aduk-adukan Nur menurut Sunnah Rasul dengan Dzulumat menurut Sunnah Syayatin, matan Al-Qur’an masih ada tapi maknanya telah diputar balik sehingga semua urusan agama hanyalah untuk di akhirat dan bukan untuk di dunia sekarang ini.

Persoalan agama akhirnya bergeser menjadi kepercayaan semata dan bukan sebagai satu system yang dapat mengatur masyrakat agar tertib dan tidak kacau sebagai mana arti agama pada awalnya dalam bahaa Sang Sekerta, A=tidak dan Gama = kacau.
Kawan, mari kita renungkan kembali, betapa dan bagaimana kerja golongan Yahudi berperan aktip dalam memutar balikkan isi Al-Qur’an menjadi Teologi, kiranya perlu menjadi perhatian Umat Islam saat ini, dan mengkaji ulang semua konsep yang bertentangan dengan Ajaran Allah menurut Sunnah Rasul walalupun ajaran itu sangat dicintai oleh kaum Muslimin semuanya. Kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah, yang tidak ada rujukan Al-Qur’an maupun Sunnah jangan diikuti.

Semoga bermanfaat mohon maaf bila ada kesalahan

Wassalam,
HAMDJAH
dari Selamon
Banda Neira


>>Guruku, DU<<

KEBANGKITAN ISLAM QURUN KEDUA

Dari catatan sejarah dapat kita baca dalam berbagai buku, bahwa setelah Muhammad Rasulullah meninggal dunia, khalifah yang berkuasa diantaranya Khalifah Umar, Khalifah Usman dan Ali terbunuh dengan sangat-sangat mengenaskan, ditusuk, dibacok dan sebagainya.

Rupanya para kaum munafiq itu ingin menghancurkan "Kehidupan Kaljasadilwahid" menjadi kembali seperti hidup mereka sebelum Islam datang, individu atau kelompok. Persaudaraan sesama manusia bagaikan satu tubuh, dimana kalau ada yang sakit, yang lain wajib merasakan sakitnya dan berusaha mengatasi rasa sakit itu bersama-sama dianggap tidak sesuai dengan selera kaum bangsawan pada saat itu.

Teladan Rasulullah bahwa jika menjadi Penguasa atau katakanlah pegawai negeri seperti sekarang ini adalah ladang untuk mengabdikan diri menurut Ajaran Allah dan bukan untuk mencari kekayaan, rupanya tidak lagi memenuhi selera masyarakat Arab pada saat itu. Khalifatullah masih tetap sama namanya, tapi praktek mereka sudah seperti Raja-Raja dari kerajaan Rum. Kekayaan negara melimpah ruah tapi hidup ummat mejadi sengsara.

Inilah potret kehancuran Islam yag sebenarnya, dimana penganutnya merasa masih dalam kehidupan Islam, tapi praktek mereka sudah sama dengan golongan lain yang non Muslim. 
Abad demi abad berlalu, muncul mashab-mashab yang mengkleim diri paling benar, maka terjadilah golongan-golongan dalam Islam yang saling bermusuhan atau saling mengkafirkan dengan dalil-dalil mereka sendiri terhadap orang Islam lain yang bersebrangan.

Sabda Nabi : Ummatku akan terbelah menjadi 73 golongan, hanya ada satu golongan nanti yang akan tampil dan yang paling benar. Dengan serta merta semua golongan Islam menyatakan merekalah golongan yang satu itu dan merekalah yang paling benar.

Situasi dunia saat ini sudah sama posisinya seperti situasi abad ke 7, hanya keadaan sekarang lebih parah, semua penyakit sosial di zaman Nabi-nabi terdahulu telah berlaku sekarang ini.

Kebangkitan Islam qurun kedua tidak akan terjadi jika tidak ada manusia yang mau mengorbankan hidupnya dengan mengikuti langkah demi langkah Rasulullah secara prinsip, baik mengenai cara studinya, maupun pengabdian Beliau menurut Perintah Allah.
Untuk itu kita perlu melakukan napak tilas, mengikuti jejak cara studi Rasulullah yang diajarkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril.

Semoga bermanfaat, mohon maaf bila ada kekurangan,
Wassalam
Hamdjah



>>Guruku, DU<<

Iman Ataukah Ideologi....??

           Ideologi datang dari bahasa yunani yakni idea dan logia, idea datang dari idein yang bermakna lihat. Idea juga diartikan suatu hal yang ada didalam pikiran menjadi perumusan suatu hal pemikiran atau gagasan. Kata logia mengandung arti ilmu dan pengetahuan atau teori, masih kata logis datang dari kata logos dari kata legein yakni bicara. Istilah ideologi sendiri pertama kali dilontarkan oleh antoine destutt de tracy (1754 – 1836), saat bergejolaknya revolusi prancis untuk mendefinisikan sains perihal inspirasi.
             Karl Marx mengartikan Ideologi sebagai pandangan hidup yang dikembangkan berdasarkan kepenti-ngan golongan atau kelas sosial tertentu dalam bidang politik atau sosial ekonomi. Gunawan Setiardjo mengemukakan bahwa ideologi adalah seperangkat ide asasi tentang manusia dan seluruh realitas yang dijadikan pedoman dan cita-cita hidup.

               Notonegoro sebagaimana dikutip oleh Kaelan mengemukakan, bahwa Ideologi negara dalam arti cita-cita negara atau cita-cita yang menjadi dasar bagi suatu sistem kenegaraan untuk seluruh rakyat dan bangsa yang bersangkutan pada hakikatnya merupakan asas kerokhanian yang antara lain memiliki ciri:
1) Mempunyai derajat yang tertinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan;
2) Mewujudkan suatu asas kerokhanian, pandangan dunia, pedoman hidup, pegangan hidup yang dipelihara, dikembangkan, diamalkan, dilestarikan kepada generasi berikutnya, diperjuangkan dan dipertahankan dengan kesediaan berkorban.

Descartes (5 mei 2004)
Ideologi adalah inti dari semua pemikiran manusia.

Karl Marx (1 mei 2005)
Ideologi merupakan alat untuk mencapai kesetaraan dan kesejahteraan bersama dalam masyarakat.

Muhammad Muhammad Ismail (24 april 2007)
Ideologi (Mabda’) adalah Al-Fikru al-asasi al-ladzi hubna Qablahu Fikrun Akhar, pemikiran mendasar yang sama sekali tidak dibangun (disandarkan) di atas pemikiran pemikiran yang lain. Pemikiran mendasar ini merupakan akumulasi jawaban atas pertanyaan dari mana, untuk apa dan mau kemana alam, manusia dan kehidupan ini yang dihubungkan dengan asal muasal penciptaannya dan kehidupan setelahnya?
Dr. Hafidh Shaleh (12 november 2008)
Ideologi adalah sebuah pemikiran yang mempunyai ide berupa konsepsi rasional (aqidah aqliyah), yang meliputi akidah dan solusi atas seluruh problem kehidupan manusia. Pemikiran tersebut harus mempunyai metode, yang meliputi metode untuk mengaktualisasikan ide dan solusi tersebut, metode mempertahankannya, serta metode menyebarkannya ke seluruh dunia.
Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan atau aqidah ‘aqliyyah (akidah yang sampai melalui proses berpikir) yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan.

            Pengertian ideologi secara umum adalah sekumpulan ide, gagasan, keyakinan dan kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis. Dalam arti luas, ideology adalah pedoman normatif yang dipakai oleh seluruh kelompok sebagai dasar cita-cita, nila dasar dan keyakinan yang dijunjung tinggi.
           Jadi bisa disimpulkan pengertian ideologi yaitu pengucapan atau pengutaraan terhadap suatu hal yang terumus didalam pikiran. Didalam tinjauan terminologis, ideology is manner or kontent of thinking characteristic of an individual or class (langkah hidup/ perilaku atau hasil pemikiran yang menunjukan sifat-sifat spesifik dari seorang individu atau satu kelas).
Mengenai pengertian Iman….
hadits Ibnu Majah menjelaskan demikian :


Al Imanu , Aqdun bil Qalbi , Wa Iqrarun bil Lisani, wa amalun bil arkani

Artinya :
“Iman ialah tambatan hati yang menggema kedalam seluruh ucapan dan menjelma kedalam segenap laku perbuatan”.
Hadits Ibnu Majah diatas membuktikan bahwa ruang lingkup Iman mencakup tiga aspek kehidupan manusia, yaitu meliputi seluruh isi hati, seluruh ucapan dan segenap laku perbuatan.


Ketiga aspek tersebut yaitu isi atau ketetapan hati, seluruh ucapan dan segenap laku perbuatan adalah satu kebulatan hidup manusia dalam arti kebudayaan dan peradaban.

Untuk lebih ringkas dan tajam maka masalah bagian isi hati dan ucapan yang memberi dan menyatakan pernilaian dan pandangan, misalnya “Matahari berputar tetap pada sumbunya – Surat 036 Yasin ayat 38 - Wasy syamsu tajri li mustaqarril lahaa dzaalika taqdiirul’aziizil aliim dsb.

Kita simpulkan menjadi pandangan hidup; dan bagian isi hati dan ucapan yang mengenai dan mencakup seluruh laku perbuatan manusia kita simpulkan menjadi sikap hidup.


Dengan demikian maka hadits diatas, untuk lebih singkat dan mendekati hakikinya, kita terjemahkan menjadi Iman ialah Pandangan dan Sikap Hidup.
Jadi hakikatnya Ideologi itu adalah Iman = pandangan dan sikap hidup yg sudah di ”sadur” dan di munculkan dalam bentuk lain oleh “si penyadur “ dalam rangka memenuhi selera perut, atas perut, dan bawah perut si penyadur  beserta kelompoknya, 
SEMANGAT BERPIKIR”


>>Guruku, DU<<

I'm Just Tired



Sometimes, it's okay to be hurts by people you love.
Just to see his smile.

But sometimes, It's too okay for people that hurt you when you just wanna show him how much you care.

In another cases, the fires feeling can changed into dark clouded when when we see person you care to, Ignore you like you never exist.

And last, sometimes, someone keep every single word under their head not because they don't care. 
It just because they tired.

Tired of being ignore !
Tired of being somebody else!
Tired of faking a smile !
Tired of this fucking entire world !
And they just wanna stop that shit things happened !

But sometimes, no matter how you stop that feeling,
Every time you try to be ignoring someone else, just like they did to you, you couldn't !

Why?
Because it's not who you are!
You can't denied it!

If you think you can be yourself like before, before the changes, it just something bad things of your thinking.
Everyday, that fuck people, that shit moment, that fake smile, becomes the part of your life.
And it changes you to be what they want you to be.

You have to live with that!
Don't ever think you can come back to the past and be you just like you in that case !
'Cause it just destroy your positive side on your mind!

So, what you have to do is GO WITH IT!
Enjoy!
You have your own way!
Nobody is perfect.
And Nobody can follow you as perfect as you did.
Don't worry...
They won't hurt you..
Because you are SPECIAL !

and I Love You :)



>>Ginda<<