Sabtu, 15 Oktober 2011

ESEI : MANUSIA BER-EQ RENDAH

Dalam kehidupan sehari – hari, saat kita melihat teman yang mendapatkan peringkat pertama dikelas, kita lekas berkata “Wah! Kamu pintar!” atau saat teman kita berhasil mengerjakan soal tersulit yang diberikan oleh guru. Karena telah terbiasa seperti itu, kita seolah – olah terhipnotis dengan orang tersebut dan selalu membenarkan apapun yang dia lakukan, walaupun hal tersebut menyinggung perasaan kita.
Saya telah banyak melihat banyak pelajar yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi. Namun tak banyak yang saya jumpai memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Dalam kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang ciri – ciri manusia dengan kecerdasan emosional yang rendah. Untuk itu, ada beberapa pengalaman nyata yang ingin saya ceritakan.
Dalam sebuah presentasi dikelas, ada seorang siswa yang mempunyai kesenangan untuk menjatuhkan dan mencari – cari kelemahan teman – temannya saat presentasi. Semakin ia bisa mendapatkan kelemahan dan kesalahan teman – temannya, ia merasa senang. Ia begitu senang bila dapat membuat teman – temannya yang sedang presentasi tampak pucat, tergagap – gagap, atau bahkan tidak dapat berkutik lagi karena merasa begitu bodoh.
Di pihak lain, ada seorang siswa dalam suatu organisasi disekolahnya yang senang karena dianggap seperti “pimpinan” tidak resmi dibidangnya, karena ia pintar. Namun, ia dibenci setengah mati diantara siswa – siswa lain. pada dasarnya, orangnya egois. Ia memang suka bercanda, tapi candanya  bernada menghina dan menyakitkan orang lain. ia suka menamai teman – temannya dengan tokoh sinetron, sifat jelek temannya, ataupun nama binatang, seperti “Si Gila”, “Mak Lampir”, “Kecoa”, dsb. Ia tidak menyadari bahwa orang – orang disekitarnya menjauhinya.
Kasus lain lagi ada seorang teman satu kostan saya yang suka sekali mentertawakan temannya yang suka sekali memasang memo atau membuat ucapan – ucapan dan menempelnya dibalik pintu lemari atau didepan meja belajar mereka. Bahkan teman saya yang juga satu kamar dengannya pernah tersinggung dengan perkataannya saat ia bercerita bagaimana film Crazy Little Thing Called Love (First Love) bisa membuatnya menangis tersendu – sendu. Dengan tanpa berdosanya ia berkata “Bagaimana mungkin kamu bisa menangis? Itu kan Cuma film, Cuma pura - pura. Cengeng banget deh kamu!”
Perhatikan bagaimana kisah nyata diatas tanpa disengaja telah menggambarkan perilaku orang dengan tingkat kecerdasan emosional yang rendah. Dari pemaparan diatas, dapat kita simpulkan beberapa sikap orang yang mempunyai tingkat kecerdasan emosional yang rendah.
Pertama, mereka yang memiliki tingkat kecerdasan emosional rendah cenderung egois, dan berorientasi pada kepuasan diri sendiri, tanpa memperdulikan perasaan orang lain disekitarnya. Beberapa diantara mereka bahkan puas bila melihat teman – teman mereka merasa sangat bodoh, bingung, panik, bahkan merasa senang bila temannya merasa tersinggung terhadap sikap dan perilakunya.
Kedua, mereka yang memiliki tingkat kecerdasan emosional rendah jika menjadi pendengar, mereka adalah pendengar yang jelek. Selalu berdebat dan tidak mau kalah. Baginya, yang benar adalah perasaannya saja.
Ketiga, mereka yang memiliki tingkat kecerdasan emosional rendah selalu memiliki persepsi negatif terhadap orang lain (Negatif Thinking). Tanpa memperhatikan kemungkinan – kemungkinan positif yang dapat terjadi.
Keempat, mereka yang memiliki tingkat kecerdasan emosional rendah cenderung mendekati masalah dengan tanpa memikirkan perasaan orang lain. Mereka selalu mencari – cari perkara dengan alasan yang kurang luwes. Seperti contoh, seorang Cleaning Service melihat seorang siswa menginjak lantai koridor yang baru saja dipel yang sebenarnya tidak boleh. CS tersebut lantas memarahi siswa tersebut. Padahal, siswa tersebut tidak tahu bahwa lantai tersebut baru saja dipel dan masih licin, juga tidak ada tanda larangan disana. Perilaku CS tersebut kemudian tersebar dikalangan siswa disekolah tempat ia bekerja juga dikalangan para pegawai. Membuat ia tidak disenangi oleh warga sekolah.
Kelima, mereka yang memiliki tingkat kecerdasan emosional rendah sangat sulit untuk mengakui dan menerima kesalahan dirinya sendiri, serta sulit untuk meminta maaf secara tulus. Sebaliknya, ia pun sulit menerima keberhasilan orang lain. kalaupun ia memberi pujian, ia memberi diskon tambahan. Misalkan “Makalahmu bagus sih, tapi sayang jenis hurufnya kurang menarik, dan warnanya terlalu kontras deh!”
Dari penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi belum tentu memiliki kecerdasan emosional yang baik. Padahal, kecerdasan emosional adalah hal utama yang dibutuhkan dalam menjalin hubungan juga dalam berbaur di kehidupan bermasyarakat.
Dalam hal lain, kecerdasan intelektual lebih cenderung dibutuhkan saat kita sedang duduk dibangku sekolah dasar. Kecerdasan emosional juga dibutuhkan dalam menjalin hubungan kerja sama atau Link dalam berbisnis. Jika kita hanya mengandalkan kecerdasan intelektual saja, tanpa memperhatikan kecerdasan emosional kita akan sulit dalam bersosialisasi. Tapi, jika kecerdasan intelektual kita rendah, namun kecerdasan emosional kita tinggi, kita akan mudah untuk membaur.

Karya : Ika Suryani (SMAN 2 Sekayu)