Di alam liar,
ketika seekor lebah tak bisa memiliki madu dari sebuah bunga, ia akan dengan
mudah mencari bunga lain yang dapat disinggahinya. Namun dalam kenyataannya, ada hal yang tak bisa
ditinggalkan begitu saja. Apalagi bila sampai menyita seumur hidupmu terjebak
disana. Itu mungkin. Karena semuanya masuk akal dalam cinta.
Aku, Faiz, dan
Nina adalah sahabat sejak kecil. Sejak dulu sekali. Kami selalu masuk kesekolah
yang sama. Tapi kadang, keadaan benar – benar ingin menguji kesetiaan kami.
Kami tak pernah berada dalam satu kelas bertiga. Disamping itu, ada hal yang
selalu membebani pikiranku selama ini. Aku pikir ada yang tidak beres dengan
persahabatan kami. Aku tak tahu apa. Aku sudah terbiasa dengan tingkah laku
Faiz yang selalu mengejar – ngejar Nina. Tapi semakin hari, perasaanku semakin
tak menentu. Bukan bertambah mengerti, namun semakin sakit.
Menjelang ujian
akhir, aku mulai menyadari bahwa aku menyayangi Faiz. Namun selalu kutolak
dengan dalil bahwa ini hanyalah cinta monyet. Pasti akan hilang. Tapi aku tak
bisa. Dan aku hanya bisa menahan rasa cemburu ku setiap kali Faiz meminta
pertolonganku saat Ia hendak menyatakan perasaannya pada Nina. Aku berhasil
mengelabuinya dengan senyuman. Namun jujur aku tak bisa membohongi perasaanku.
Bahwa aku cemburu.
Setelah tamat SMA, kami berjanji untuk tidak
pergi ke tempat yang sama lagi. Akhirnya, aku memutuskan untuk melanjutkan
studiku di Palembang, sedangkan Nina memilih melanjutkan kuliah di Jakarta
sambilan mendirikan usahanya sendiri disini. Faiz, Faiz yang paling bodoh
diantara kami, memutuskan ikut orangtuanya ke Amerika dan melanjutkan studinya
disana.
Setelah sekian
lama, akhirnya aku dapat menyelesaikan gelarku di Kota BARI ini. 5 tahun
lamanya, akhirnya kami dipertemukan lagi. Lewat sebuah pesan singkat dari nomor
tak dikenal yang masuk ke ponselku. Pertemuan kami di Jakarta. Aku yang saat
itu tengah berada di Medan, langsung mengambil penerbangan ke Jakarta. Tak mau
melewatkan momen berharga yang dulu pernah terlewati.
“Dinda, makasih
banyak ya udah mau dateng. Padahal kamu baru pulang dari Medan sore tadi.” Ujar
Faiz memulai percakapan kami malam itu. “Iya. Nggak apa – apa kok Iz. Aku
seneng kita bisa kumpul lagi bertiga kayak gini. Iya kan Nin?” tanyaku dengan
senyum. “Nggak masalah buat aku. Selama aku nggak dirugiin sama waktu yang udah
disita. Oke oke aja. Lagian juga kita udah lama nggak kumpul kayak gini.” Jawab
Nina santai. “Ngomong – ngomong, gimana kuliah kamu di Amerika Iz?”. Tanyaku
telah memecah kenehingan sesaat disana. “Lancar kok. Tinggal nunggu kelulusan
aja kok Nda. Masih ada waktu sekitar kurang lebih satu bulan lagi lah.” Jawab
Faiz dengan aku dan Nina mendengarkan seksama. “Lalu rencana kamu setelah
selesai kuliah apa Iz? Kamu nggak niat buat nyari kerja lagi kan? Kamu udah
dapet posisi di perusahaan ayah kamu. Malahan kemaren aku denger kamu yang
bakal nerusin kepemimpinan ayah kamu.” Jawab Nina menyambung percakapan kami.
“Ah itu. Kamu bener Nin. Kayaknya aku bakal...” omonganya terputus, lalu aku
melihatnya mengeluatkan sebuah kotak dari kantong jas hitam yang ia kenakan
malam itu. Dan bisa kutebak bahwa didalamnya adalah sebuah cincin. Faiz
berpaling padaku. “Dinda. Kamu adalah temen aku yang paling setia. Untuk itu,
malam ini, aku mau kamu jadi saksi buat aku ngelamar Nina.” Deg! Ngilu. Hati
aku sakit. Jadi itu bukan untukku? “Nina, mungkin kamu udah bosen denger kata –
kata aku yang sering banget aku ucapin sama kamu di bangku sekolah dulu. Tapi
aku pengen kamu tahu Nin, aku sama sekali nggak pernah bosen dengan kata itu.
Karna aku cinta kamu. Tulus dari hati aku. Maukah kamu menjadi pendamping
hidupku Nin?” Astaga. Mengapa hatiku benar – benar sakit. Mengapa nafasku
menjadi sesak mendengar pengakuan itu. Aku... aku cemburu. “Faiz...” kulihat
Nina menatap nya dalam. Sejenak kulirik Nina memperhatikanku, seolah membaca ku
dengan sorot matanya yang tajam. “Kamu masih inget gimana terakhir kali sebelum
kita lulus aku nolak kamu di depan semua siswa?” tanya Nina dengan sikapnya
yang selalu tenang. “Tentu saja. Aku nggak bisa lupa.” Jawab Faiz dengan
tersipu. “Baguslah. Dan sekarang aku akan menolakmu juga.” Deg! Setelah
tertunduk lama, akhirnya aku bisa mengangkat kepalaku kembali. Pandanganku
hanya tertuju padanya. Aku melihat sorot mata kecewa itu. Yang kemudian
membuatku ingin menangis. Sejenak kami saling diam. Aku hanya berusaha bernafas
dengan biasa mencoba menyembunyikan perasaan yang semakin tidak karuan
mendengar jawaban konyol itu. “Hm...” Faiz menghela nafas panjang dan kembali
rileks di tempatnya. “Mungkin aku nggak kaget lagi sama jawaban kamu. Aku
pikir, setelah sekian lama aku pergi, saat aku balik lagi, kita ketemu lagi,
kamu bisa buka hati kamu buat aku dengan yah.. mungkin aku terlalu berharap.
Aku pikir kamu bakal kangen sama aku. Tapi Nin, boleh aku tahu kenapa? Apa aku
ada salah sama kamu?” respon Faiz menarik perhatian Nina. Ia membalasnya dengan
senyuman. “Kamu inget nggak waktu kita SMA, ada murid pertukaran pelajar dari
Bali?”. “Iya aku masih inget. Anak culun itu. Memangnya kenapa?”. “Aku pernah
denger gosip kalo Nina dijodohin sama dia.” Jawabku. “Apa? Nin, aku nggak salah
denger kan? Tapi kenapa dia?”. “Mungkin kedengerannya kayak mustahil. Tapi, dia
itu temen aku waktu kecil di Bali. Sebelum aku pindah ke Jakarta. Sebelum aku
ketemu sama kalian. Kita udah buat janji. Kalo kami ketemu lagi suatu nanti,
kami nggak akan lagi dipisahin oleh apapun.”. “Tapi itu bukan berarti kamu
cinta sama dia dan dia cinta sama kamu Nin.”. “Enggak iz, justru itulah cinta.
Kalo kita berdua mikir itu cuma sebuah permainan, kita bakal cari yang laen
selama masa perpisahan itu. Trus kalo udah dapet yang lebih baik, dia bakal
lupain janji itu gitu aja. Nyatanya, dia malah buat dirinya sendiri nggak
dilirik sama cewek.” . “Emangnya kayak apa sih dia sekarang?”. “Dia sekarang
seorang model.” jawabku menyambung. “Sudahlah Iz. Aku sayang sama kamu. Aku
sayang sama persahabatan kita. Tolong Iz, jangan ubah perasaan itu jadi benci.
Aku nggak bisa pungkiri semua pengorbanan kamu selama ini ke aku. Tapi aku
bener – bener minta maaf. Aku nggak bisa. Iz, ada orang yang lebih sayang sama
kamu diluar sana. Dan mungkin kamu nggak sadar kalo ada dia.” Nina menggenggam
tangan Faiz. Aku tahu hatinya tengah terluka dan kecewa. Bagaimana tidak, sejak
dulu, hanya Nina yang ada dipikirannya. Nina, Nina, dan selalu Nina. Namun yang
diseberang sana, tak pernah sedikitpun melihat atau bahkan meliriknya. “Iya
Nin. Aku juga sayang sama kamu. Kamu pasti udah tahu. Nggak masalah kalo cuma
sekedar temen. Yang penting kamu nggak pergi dari aku.” Faiz menjawab dengan
senyum diwajahnya. Ya Tuhan, apa dia benar – benar tak pernah melihatku?
Sejenak mereka diam dan saling berpandangan. Aku benar – benar tak tahan
melihatnya. “Eh, aku mau ketoilet bentar ya.” Alasan satu – satunya ke toilet
adalah demi menyembunyikan pedih hatiku dari keduanya. Aku menangis. Namun
segera kutepis perasaan itu. Aku tak ingin membuat kedua sahabatku bersedih
atas diriku. Aku kembali, dan kulihat Nina sudah tak ada dimeja. “Loh, Iz, Nina
kemana? Kok nggak ada?”. Tanyaku. “Udah pulang. Tadi mamanya nelpon minta
temenin dirumah. Papanya keluar kota malem ini.” Jawabnya. “Oh, gitu. Kamu
belum mau pulang Iz?” Faiz hanya diam menatap segelas anggur ditangannya. Dan
memainkannya dengan sesekali tersenyum. “Dinda, kamu besok pulang kerja jam
berapa?”. “Heh?”. Responku begitu singkat karna kaget dengan pertanyaan yang
dilontarkannya. “Iya. Kamu besok pulang kerja jam berapa? Aku jemput ya. Kita
makan siang bareng aja. Sekalian besok aku mau beli sepatu baru. Temenin aku.”
Meskipun sederhana, namun kata – katanya barusan, membuat tubuhku begitu
hangat. Dengan senyuman yang tak pernah kudapatkan sebelumnya, Tuhan, aku
mencintainya. Apakah ini waktu kesempatanku untuknya?
Beberapa waktu
sebelumnya...
“Faiz, aku nggak
tau kenapa kamu pilih aku buat jadi pendamping kamu. Tapi hal yang aku mau
bilang sama kamu Iz. Ada satu orang yang selama ini nunggu kamu. Selama ini aku
emang selalu nunggu kepulangan kamu dari Amerika. Karna aku kangen itu pasti.
Tapi perasaan aku nggak lebih karna kamu adalah sahabat karib aku. Ada satu
orang yang selalu nantiin kamu. Bukan Cuma buat ketemu aja dan ngelepas kangen.
Tapi karna dengan adanya kamu disamping dia, kebutuhan dia sehari – hari udah
terpenuhi. Kamu bisa bayangin kan Iz. Kalo orang nggak dapet apa yang dia
butuhin, dia bakal kekurangan. Kamu itu kebutuhan dia. Kamu harus coba Iz. Aku
emang baik sama kamu. Tapi bukan berarti aku baik buat kamu. Aku cuma kasih saran
kekamu. Terserah kamu mau gimana. Karna aku nggak ada hak buat ngatur hidup
kamu. Buka hati kamu Iz, dan kamu bakal nemuin orang yang sempurna.”. “Tapi
siapa Nin orangnya?”. “Coba kamu tanya Dinda. Aku pulang duluan ya. Soalnya
mama aku sendirian dirumah. Papa malem ini ke luar kota.”
Aku hanya
tersenyum. Akhirnya seseorang telah membangunkannya dari mimpi yang selama ini
telah dia ketahui bahwa Ia tak bisa menggapainya. Apakah ini hasil dari
penatianku? Kurasa iya. Tak lama setelah itu Faiz kembali ke Amerika mengurus
kelulusannya. Aku kembali ke Palembang karna aku diterima bekerja disalah satu
perusahaan disana. Dan Nina, Ia sibuk mempersiapkan pernikahannya. Setelah
kelulusannya, Faiz kembali lagi ke Indonesia. Ia memutuskan mengabdikan diri
untuk negara. Selain itu, Ia tak kan begitu saja melewatkan hari pernikahan
sahabat yang begitu dicintainya. Dimalam yang spesial itu, Faiz selalu
bersamaku. “Dinda, tempat kamu itu disamping aku.” Setelah ia meraih tanganku
dan menggenggamnya erat dengan tangannya. Akhirnya aku sadar, aku benar – benar
mencintainya.
Writer : Ika Suryani
