Jumat, 30 Mei 2014

Cerpen : AKU BENAR MENCINTAINYA





Di alam liar, ketika seekor lebah tak bisa memiliki madu dari sebuah bunga, ia akan dengan mudah mencari bunga lain yang dapat disinggahinya. Namun  dalam kenyataannya, ada hal yang tak bisa ditinggalkan begitu saja. Apalagi bila sampai menyita seumur hidupmu terjebak disana. Itu mungkin. Karena semuanya masuk akal dalam cinta.
Aku, Faiz, dan Nina adalah sahabat sejak kecil. Sejak dulu sekali. Kami selalu masuk kesekolah yang sama. Tapi kadang, keadaan benar – benar ingin menguji kesetiaan kami. Kami tak pernah berada dalam satu kelas bertiga. Disamping itu, ada hal yang selalu membebani pikiranku selama ini. Aku pikir ada yang tidak beres dengan persahabatan kami. Aku tak tahu apa. Aku sudah terbiasa dengan tingkah laku Faiz yang selalu mengejar – ngejar Nina. Tapi semakin hari, perasaanku semakin tak menentu. Bukan bertambah mengerti, namun semakin sakit.
Menjelang ujian akhir, aku mulai menyadari bahwa aku menyayangi Faiz. Namun selalu kutolak dengan dalil bahwa ini hanyalah cinta monyet. Pasti akan hilang. Tapi aku tak bisa. Dan aku hanya bisa menahan rasa cemburu ku setiap kali Faiz meminta pertolonganku saat Ia hendak menyatakan perasaannya pada Nina. Aku berhasil mengelabuinya dengan senyuman. Namun jujur aku tak bisa membohongi perasaanku. Bahwa aku cemburu.
 Setelah tamat SMA, kami berjanji untuk tidak pergi ke tempat yang sama lagi. Akhirnya, aku memutuskan untuk melanjutkan studiku di Palembang, sedangkan Nina memilih melanjutkan kuliah di Jakarta sambilan mendirikan usahanya sendiri disini. Faiz, Faiz yang paling bodoh diantara kami, memutuskan ikut orangtuanya ke Amerika dan melanjutkan studinya disana.
Setelah sekian lama, akhirnya aku dapat menyelesaikan gelarku di Kota BARI ini. 5 tahun lamanya, akhirnya kami dipertemukan lagi. Lewat sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal yang masuk ke ponselku. Pertemuan kami di Jakarta. Aku yang saat itu tengah berada di Medan, langsung mengambil penerbangan ke Jakarta. Tak mau melewatkan momen berharga yang dulu pernah terlewati.
“Dinda, makasih banyak ya udah mau dateng. Padahal kamu baru pulang dari Medan sore tadi.” Ujar Faiz memulai percakapan kami malam itu. “Iya. Nggak apa – apa kok Iz. Aku seneng kita bisa kumpul lagi bertiga kayak gini. Iya kan Nin?” tanyaku dengan senyum. “Nggak masalah buat aku. Selama aku nggak dirugiin sama waktu yang udah disita. Oke oke aja. Lagian juga kita udah lama nggak kumpul kayak gini.” Jawab Nina santai. “Ngomong – ngomong, gimana kuliah kamu di Amerika Iz?”. Tanyaku telah memecah kenehingan sesaat disana. “Lancar kok. Tinggal nunggu kelulusan aja kok Nda. Masih ada waktu sekitar kurang lebih satu bulan lagi lah.” Jawab Faiz dengan aku dan Nina mendengarkan seksama. “Lalu rencana kamu setelah selesai kuliah apa Iz? Kamu nggak niat buat nyari kerja lagi kan? Kamu udah dapet posisi di perusahaan ayah kamu. Malahan kemaren aku denger kamu yang bakal nerusin kepemimpinan ayah kamu.” Jawab Nina menyambung percakapan kami. “Ah itu. Kamu bener Nin. Kayaknya aku bakal...” omonganya terputus, lalu aku melihatnya mengeluatkan sebuah kotak dari kantong jas hitam yang ia kenakan malam itu. Dan bisa kutebak bahwa didalamnya adalah sebuah cincin. Faiz berpaling padaku. “Dinda. Kamu adalah temen aku yang paling setia. Untuk itu, malam ini, aku mau kamu jadi saksi buat aku ngelamar Nina.” Deg! Ngilu. Hati aku sakit. Jadi itu bukan untukku? “Nina, mungkin kamu udah bosen denger kata – kata aku yang sering banget aku ucapin sama kamu di bangku sekolah dulu. Tapi aku pengen kamu tahu Nin, aku sama sekali nggak pernah bosen dengan kata itu. Karna aku cinta kamu. Tulus dari hati aku. Maukah kamu menjadi pendamping hidupku Nin?” Astaga. Mengapa hatiku benar – benar sakit. Mengapa nafasku menjadi sesak mendengar pengakuan itu. Aku... aku cemburu. “Faiz...” kulihat Nina menatap nya dalam. Sejenak kulirik Nina memperhatikanku, seolah membaca ku dengan sorot matanya yang tajam. “Kamu masih inget gimana terakhir kali sebelum kita lulus aku nolak kamu di depan semua siswa?” tanya Nina dengan sikapnya yang selalu tenang. “Tentu saja. Aku nggak bisa lupa.” Jawab Faiz dengan tersipu. “Baguslah. Dan sekarang aku akan menolakmu juga.” Deg! Setelah tertunduk lama, akhirnya aku bisa mengangkat kepalaku kembali. Pandanganku hanya tertuju padanya. Aku melihat sorot mata kecewa itu. Yang kemudian membuatku ingin menangis. Sejenak kami saling diam. Aku hanya berusaha bernafas dengan biasa mencoba menyembunyikan perasaan yang semakin tidak karuan mendengar jawaban konyol itu. “Hm...” Faiz menghela nafas panjang dan kembali rileks di tempatnya. “Mungkin aku nggak kaget lagi sama jawaban kamu. Aku pikir, setelah sekian lama aku pergi, saat aku balik lagi, kita ketemu lagi, kamu bisa buka hati kamu buat aku dengan yah.. mungkin aku terlalu berharap. Aku pikir kamu bakal kangen sama aku. Tapi Nin, boleh aku tahu kenapa? Apa aku ada salah sama kamu?” respon Faiz menarik perhatian Nina. Ia membalasnya dengan senyuman. “Kamu inget nggak waktu kita SMA, ada murid pertukaran pelajar dari Bali?”. “Iya aku masih inget. Anak culun itu. Memangnya kenapa?”. “Aku pernah denger gosip kalo Nina dijodohin sama dia.” Jawabku. “Apa? Nin, aku nggak salah denger kan? Tapi kenapa dia?”. “Mungkin kedengerannya kayak mustahil. Tapi, dia itu temen aku waktu kecil di Bali. Sebelum aku pindah ke Jakarta. Sebelum aku ketemu sama kalian. Kita udah buat janji. Kalo kami ketemu lagi suatu nanti, kami nggak akan lagi dipisahin oleh apapun.”. “Tapi itu bukan berarti kamu cinta sama dia dan dia cinta sama kamu Nin.”. “Enggak iz, justru itulah cinta. Kalo kita berdua mikir itu cuma sebuah permainan, kita bakal cari yang laen selama masa perpisahan itu. Trus kalo udah dapet yang lebih baik, dia bakal lupain janji itu gitu aja. Nyatanya, dia malah buat dirinya sendiri nggak dilirik sama cewek.” . “Emangnya kayak apa sih dia sekarang?”. “Dia sekarang seorang model.” jawabku menyambung. “Sudahlah Iz. Aku sayang sama kamu. Aku sayang sama persahabatan kita. Tolong Iz, jangan ubah perasaan itu jadi benci. Aku nggak bisa pungkiri semua pengorbanan kamu selama ini ke aku. Tapi aku bener – bener minta maaf. Aku nggak bisa. Iz, ada orang yang lebih sayang sama kamu diluar sana. Dan mungkin kamu nggak sadar kalo ada dia.” Nina menggenggam tangan Faiz. Aku tahu hatinya tengah terluka dan kecewa. Bagaimana tidak, sejak dulu, hanya Nina yang ada dipikirannya. Nina, Nina, dan selalu Nina. Namun yang diseberang sana, tak pernah sedikitpun melihat atau bahkan meliriknya. “Iya Nin. Aku juga sayang sama kamu. Kamu pasti udah tahu. Nggak masalah kalo cuma sekedar temen. Yang penting kamu nggak pergi dari aku.” Faiz menjawab dengan senyum diwajahnya. Ya Tuhan, apa dia benar – benar tak pernah melihatku? Sejenak mereka diam dan saling berpandangan. Aku benar – benar tak tahan melihatnya. “Eh, aku mau ketoilet bentar ya.” Alasan satu – satunya ke toilet adalah demi menyembunyikan pedih hatiku dari keduanya. Aku menangis. Namun segera kutepis perasaan itu. Aku tak ingin membuat kedua sahabatku bersedih atas diriku. Aku kembali, dan kulihat Nina sudah tak ada dimeja. “Loh, Iz, Nina kemana? Kok nggak ada?”. Tanyaku. “Udah pulang. Tadi mamanya nelpon minta temenin dirumah. Papanya keluar kota malem ini.” Jawabnya. “Oh, gitu. Kamu belum mau pulang Iz?” Faiz hanya diam menatap segelas anggur ditangannya. Dan memainkannya dengan sesekali tersenyum. “Dinda, kamu besok pulang kerja jam berapa?”. “Heh?”. Responku begitu singkat karna kaget dengan pertanyaan yang dilontarkannya. “Iya. Kamu besok pulang kerja jam berapa? Aku jemput ya. Kita makan siang bareng aja. Sekalian besok aku mau beli sepatu baru. Temenin aku.” Meskipun sederhana, namun kata – katanya barusan, membuat tubuhku begitu hangat. Dengan senyuman yang tak pernah kudapatkan sebelumnya, Tuhan, aku mencintainya. Apakah ini waktu kesempatanku untuknya?
Beberapa waktu sebelumnya...
“Faiz, aku nggak tau kenapa kamu pilih aku buat jadi pendamping kamu. Tapi hal yang aku mau bilang sama kamu Iz. Ada satu orang yang selama ini nunggu kamu. Selama ini aku emang selalu nunggu kepulangan kamu dari Amerika. Karna aku kangen itu pasti. Tapi perasaan aku nggak lebih karna kamu adalah sahabat karib aku. Ada satu orang yang selalu nantiin kamu. Bukan Cuma buat ketemu aja dan ngelepas kangen. Tapi karna dengan adanya kamu disamping dia, kebutuhan dia sehari – hari udah terpenuhi. Kamu bisa bayangin kan Iz. Kalo orang nggak dapet apa yang dia butuhin, dia bakal kekurangan. Kamu itu kebutuhan dia. Kamu harus coba Iz. Aku emang baik sama kamu. Tapi bukan berarti aku baik buat kamu. Aku cuma kasih saran kekamu. Terserah kamu mau gimana. Karna aku nggak ada hak buat ngatur hidup kamu. Buka hati kamu Iz, dan kamu bakal nemuin orang yang sempurna.”. “Tapi siapa Nin orangnya?”. “Coba kamu tanya Dinda. Aku pulang duluan ya. Soalnya mama aku sendirian dirumah. Papa malem ini ke luar kota.”
Aku hanya tersenyum. Akhirnya seseorang telah membangunkannya dari mimpi yang selama ini telah dia ketahui bahwa Ia tak bisa menggapainya. Apakah ini hasil dari penatianku? Kurasa iya. Tak lama setelah itu Faiz kembali ke Amerika mengurus kelulusannya. Aku kembali ke Palembang karna aku diterima bekerja disalah satu perusahaan disana. Dan Nina, Ia sibuk mempersiapkan pernikahannya. Setelah kelulusannya, Faiz kembali lagi ke Indonesia. Ia memutuskan mengabdikan diri untuk negara. Selain itu, Ia tak kan begitu saja melewatkan hari pernikahan sahabat yang begitu dicintainya. Dimalam yang spesial itu, Faiz selalu bersamaku. “Dinda, tempat kamu itu disamping aku.” Setelah ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat dengan tangannya. Akhirnya aku sadar, aku benar – benar mencintainya.

Writer : Ika Suryani