Karya : Ika Suryani
Cinta merekah
bagai mawar merah dihatimu. Mahkota merahnya seperti kacamata hati yang
menutupi kerinduanmu. Sarat dengan kasih sayang nan duniawi yang menjanjikan
kebahagiaan. Aroma cintanya laksana parfum alami yang membuat pasangan ingin
saling memiliki. Tajam durinya seakan tertutupi, sehingga sakit yang
ditimbulkannya pun tidak pernah tersadari. Sebuah puisi dari
Ali Akbar Navis yang kubacaan untuk Mitha.
Mitha tertidur pulas. Leganya melihat ia terlelap tenang.
Tak perlu kau khawatir. Aku akan selalu bersamamu.
Karena benih – benih cinta yang berada didalam hati ini akan segera bersemai,
bertunas, lalu munculah akar yang menuju dasar hati. Akar tersebut berwarna
putih susu. Semakin lama, ia tumbuh semakin kuat, besar dan kokoh. Bunga –
bunganya pun akan lekas bermekaran.
***
Sore itu aku dan Mitha tengah duduk
dipinggir danau. Meresapi dan merasakan desis angin yang berlalu. Bunga – bunga
bermekaran dibibir danau. Membuat air berlomba menjilat ketepian demi dapat
menyentuh bunga itu.
Sayup mata Mitha membuatku tenang.
Rambunya yang lurus membuat aku tertegun. Namun sejenak aku cemburu. Aku
cemburu pada angin yang seenaknya saja berhembus disela rambutnya. Mendahului
sebelumku dapat membelainya. Saat – saat seperti inilah yang membuat aku enggan
untuk cepat berlalu. Biarlah waktuku terhenti sejenak hari ini untuk dapat
bersamanya.
Lama aku termenung, melihat sandiwara
air, angin, dan bunga – binga ditepi danau. Banyak yang belum aku ketahui dari
semua ini. Mungkin akan jadi PR bagiku dikemudian hari.
“Hei!” dikejauhan Mitha memanggilku.
Entah kapan dia sudah berada ditepi danau.
“Mitha! Kamu ngapain disitu?” teriakku.
“Menanam cinta sejati!” jawabnya.
Menanam cinta sejati?
“Mitha! Kamu sudah gi...” belum sempat aku membalas
pekataannya, ia telah lebih dulu menghilang dirimbunnya pepohonan disekitar
danau.
Sudah 17 tahun lebih aku mengenal
Mitha. Rasanya tak ingin berpisah lagi dengannya. Dari kecil, sampai dewasa ini
dialah yang setia menemani aku. Aku tak bisa bayangkan bila aku sampai kehilangan
dia.
Sepulang sekolah, aku menunggu Mitha
didepan gerbang. Namun, lama aku tak melihat Mitha. Biasanya ia selalu
menungguku jika ia pulang duluan. Kupikir ia belum pulang. Hari telah
menunjukkan pukul 3 sore. Mana mungkin ia belum pulang. Sebentar lagi sekolah
akan tutup. Mungkin ia ada keperluan
mendadak, sehingga pulang duluan. Tapi kenapa tidak kirim pesan? Ah...
sudahlah!
Aku pulang
sendirian. Biasanya sebelum pulang kerumah, aku dan Mitha mampir ke danau dulu.
Sejak kemarin sore, aku belum melihat Mitha. Hari inipun tidak. Anak itu seolah
menghilang tanpa jejak. Tiba – tiba muncul perasaan takut. Takut kehilangan
sosok Mitha yang sangat aku cinta. Namun, cinta itu belum sempat aku ungkapkan.
Detik demi detik berlalu, menitpun
enggan menunggu, jam berganti jam, hingga hari mengikuti, minggu, bulan, bahkan
tahun kini pun ikut berganti. Namun Mitha, belum juga aku temukan. Tak terasa,
4 tahun sudah aku kehilangan Mitha. Sejak kepergian Mitha, pintu hatiku telah
kugembok untuk cinta yang lain. aku masih menunggu Mitha. Berharap ia akan
menanam cinta sejatinya padaku.
Angin,
aku mohon, bawalah aku menemui Mitha. Kau yang selalau mencuri kesempatanku
untuk membelai rambutnya juga wajahnya yang ayu. Anginpun menjawab, aku tak
kuat untuk bertiup melawan arus untuk menemuinya. Kutanya pada air, arus apakah
yang dimaksud oleh angin? Airpun menjawab, arus kehidupan yang kian hari
semakin mencekik perekonomian. Bahkan akupun hampir mati karenanya. Aku belum
puas dengan jawaban mereka. Lalu kutanya pada bunga – bunga ditepi danau.
Kemana jantung hatiku pergi sore itu? Bunga hanya menggeleng. Kemudian kutanya
pada alam. Alampun menjawab, mungkin penantian yang terlalu lama telah membuat
ia mengambil keputusan tentang kata TIDAK baginyalah yang membuat ia pergi dan
berpaling. Kini ia pergi nan jauh. Aku kembali bertanya. Mengapa ia tak
meninggalkan pesan atau mengucapkan selamat tinggal sebelum pergi? Alampun
kembali menjawab. Ia telah lama berusaha menimbun penantian itu. Dan saat ia
yakin bahwa ia bisa, ia tak mau berkata apa – apa. Karena takut, benih yang
telah ia timbun akan tumbuh kembali.
Aku menangis. Aku menangis dalam
kesalahan dan kebodohanku. Takut, takut akan kecewalah yang akan aku alami
membuat cinta itu juga takut. Takut, kelak ia dapat menyakiti hatiku. Namun...
sudahlah. Kini aku akan hidup. Hidup dalam hidup yang sehidup – hidupnya.
Biarlah kenangan Mitha yang terindah terukir indah didinding hatiku.
Penyesalanku tak membuatku kalut akan
dunia yang semakin gelap. Justru aku semakin giat membuat lentera agar hidupku
tetap terang. Kini aku telah menyelesaikan kuliah di Fakultas Kedokteran. Saatnya
melanjutkan kuliah menjadi dokter spesialis. Masih banyak hal yang harus aku
pertimbangkan dalam memilih spesialis dokter apa.
Hal tersebut membuat aku benar – benar
bingung. Disamping memikirkan masa depan, aku juga harus mempertimbangkan biaya
yang harus dikeluarkan. Aku tak mau ambil pusing. Seperti biasa, saat aku benar
– benar kosong, aku pergi ke danau. Mencari inspirasi dari jejak teman lamaku
yang kian pudar. Aromanya kini berubah. Bau dedaunan yang biasa menghiasi, kini
berubah jadi asap kendaraan. Benar kata air, arus itu semakin mencekik. Hingga
cekikkannya sampai kedalam jantungku.
Setelah lama aku duduk termenung
disana, aku memutuskan untuk mengambil spesialis dokter gigi. Entah mengapa.
Mungkin belajar dari waktu aku kecil dulu. Dulu, bahkan satupun gigiku tak
tersisa. Karena aku terlalu sering mengkonsumsi permen dan makanan gula – gula
lainnya.
Dalam pemilihan jurusan ini, aku
diberi banyak pilihan. Hingga membuat aku melepaskan spesialis gigi sesuai
rencanaku. Karena orangtuaku punya rumah sakit di Singapura yang cukup bagus.
Aku diberi penyuluhan disana sebelum aku melanjutkan kuliah dokter spesialis.
Tentang banyak hal. Rencanaku setelah tamat kuliah nanti, aku ingin bekerja di
rumah sakit milik orang tuaku saja. Sekaligus melanjutkan rumah sakit ini
menggantikan ayahku.
Mendengar niatku yang akan
menggantikan ayahku, salah satu dokter senior disana langsung memberikanku
beberapa pilihan. Termasuk contoh pasien yang akan aku tangani kelak. Karena
kualitas rumah sakit ini bagus, banyak orang dari manapun berobat kesini. Rata
– rata orang – orang yang penyakitnya sulit disembuhkan atau butuh waktu lama
untuk menyembuhkannya.
Aku melanjutkan kuliahku di Singapura. Karena aku masih
ragu – ragu, dokter pelatihku pun langsung mengajakku melihat pasien secara
langsung. Kebanyakan dari mereka mengidap penyakit kanker, lemah jantung, gagal
ginjal, dan sebagainya.
Aku membaca data – data pasien yang dirawat di rumah
sakit ini.
“Dokter, boleh saya lihat langsung pasien – pasien ini?”
pintaku penuh harap.
“Oh, silahkan. Mari, saya antar.” Jawab dokter
mempersilahkan.
“terima kasih dok.”
“sama – sama.”
Dokter mengantarku kesetiap kamar. Sebagian besar mereka
berasal dari nusantara. Lelah sekaligus sedih, baik karena pesiennya banyak,
juga karena kisah perjuangan mereka. Kesetiaan keluarga, kasih sayang, dan
cinta.
Memang, cinta
menyuguhkan berbagai macam kisah perjuangan yang tak akan pernah terpadamkan.
Cinta bisa membawa seseorang berada pada jalan yang tak pernah ia sangka
sebelumnya. Cinta juga menguras berbagai berbagai pengorbanan dalam setiap
jengkal langkah. Sama halnya seperti cinta yang aku alami. Seperti akar pohon
beringin saja kisah cintaku ini. Menggantung tanpa ujung yang jelas.
Tiba aku dikamar terakhir. Kamar paling ujung. Pasiennya
mengidap lemah jantung dan kanker hati. Sungguh tragis. 2 penyakit ganas
sekaligus menyerangnya. Memang dari luar fisiknya baik – baik saja, namun
didalamnya, sakit yang luar biasa menyerang bertubi – tubi. Sangat
sensitif terhadap sedikit saja sentuhan.
Seperti dalam dirinya sarang lebah. Tersentuh sedikit, dia bisa meyerangmu.
Gadis ini berumur 16 tahun ini sayup – sayup kulihat
matanya yang dingin. Air mukanya yang polos dan pucat menambah kesan sedih yang
luar biasa.
“Dokter, kelak aku ingin merawat pasien seperti ini.”
“apa? Kamu yakin?” tanya dokter pembina meragukanku.
“saya yakin dokter” jawabku meyakinkan.
“baiklah kalau begitu. Jadi, kamu pilih spesialis apa?”
“Spesialis hati!”
“baiklah. Semua ada ditanganmu sendiri nak. Kamu yang
akan menjalaninya. Semoga kau sukses!”
Setelah mendapatkan keputusan, aku pulang kenusantara
untuk mempersiapkan kepindahanku ke Singapura. Tak akan ku pernah lupa, aku
mampir ke danau seperti biasa. Perasaan gembira yang tak dapat aku curahkan
dalam tindakan dan kata – kata.
“ANGIN...!!! AIR...!!! DENGARLAH! Benih cintaku kini
telah hidup kembali. Aku tak kan bertanya lagi ataupun menyusahkan kalian lagi
setelah ini. ALAM...!!! Benih cintaku ini akan kusebar didasar hatiku. Dan akan
mempercantik dirimu. Ia akan tumbuh jadi pohon cinta yang punya akar yang kuat
untuk menahan air mata dari tangisku, punya daun yang rimbun untuk menahan
panasnya amarah, dan punya bunga yang indah nan semerbak baunya.”
Aku benar – benar
akan meraih kembali cinta itu! Dan akan kubawa kembali bersamaku. Meskipun
tanpa Mitha, aku harus tetap berjuang untuknya. Dengan begini, aku pasti akan
menemukannya.
Sejenak hening. Kemudian angin bertiup kencang dan
menyapu tubuhku. Gemercik air menjilat tepi danau dan terdengar riang, dedaunan
bertepuk tangan, mahkota bunga – bunga bertebaran merestui kepergianku.