Kamis, 09 Mei 2013

KONDANGAN : Kelas Semester 2 Telekomunikasi A











Anak Bermental Juara?



Bermental juara tidak hanya merujuk pada anak yang mampu memenangkan kompetisi atau lomba tertentu. Anak bisa dikatakan bermental juara pada saat dia berhasil melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Seringkali makna juara yang seperti ini kurang disadari oleh para orangtua maupun anak.

Cara yang dapat ditempuh untuk memiliki mental juara ini adalah dengan mengajari anak untuk menghargai sekecil apapun prestasi yang anak miliki. Orangtua harus membantu anak untuk berhasil dalam setiap langkah atau apapun yang anak lakukan

Bermental juara juga dapat berarti anak yang tangguh menghadapi segala tantangan. Anak perlu ditempa untuk siap menghadapi tantangan dan menjadi anak yang mandiri. Cara membentuk mental juara pada anak adalah dengan tidak selalu membantu anak, tidak selalu menganggap anak masih kecil.

Orangtua perlu menyadari kapan anak perlu dibantu dan kapan anak bisa dilepas untuk memecahkan masalahnya sendiri. Selain itu orangtua juga perlu menanamkan motivasi dari dalam diri anak sehingga anak tidak selalu harus disuruh dan ditentukan oleh lingkungannya dalam melakukan sesuatu

Bermental juara dapat berarti juga anak yang mampu menghadapi kekalahan. Dalam hidup, seseorang tidak selalu menghadapi keberhasilan tetapi juga dalam saat-saat tertentu menghadapi kegagalan atau ketidakmulusan. Di sini anak perlu belajar bahwa diperlukan usaha untuk mengatasi ketidakberhasilan.

Minggu, 05 Mei 2013

14 Pesan Penting Untuk Setiap Orangtua dan Guru

• Anakmu suka berdusta → anda terlalu ketat mengevaluasi perbuatannya.
• Anakmu tidak punya rasa percaya diri → anda tidak memberikan dorongan kepadanya.
• Anakmu lemah dalam bicara → anda jarang mengajaknya berdialog.
• Anakmu mencuri → anda tidak membiasakannya untuk memberi dan berkorban.
• Anakmu pengecut→ anda terlalu memberikan pembelaan kepadanya.
• Anakmu tidak menghormati orang lain→ anda tidak bicara dengan kelembutan kepadanya.
• Anakmu selalu marah-marah→ anda tidak memberikan pujian kepadanya.
• Anakmu pelit→ anda tidak menyertakannya dalam berbuat.
• Anakmu suka jahat kepada orang lain→ anda kasar kepadanya.
• Anakmu lemah→ anda menggunakan ancaman dalam mendidiknya.
• Anakmu cemburu→ anda sering mengabaikannya.
• Anakmu mengganggumu→ anda tidak mencium atau mendekapnya.
• Anakmu tidak mau patuh kepadamu→ anda terlalu banyak permintaan.
• Anakmu cemberut→ anda sibuk terus.

Mengatasi Anak Hiperaktif ? (benarkah hiperaktif ?)

Baiklah sekarang kita akan membahas tentang anak hiperaktif, dimana orang tua sering mengeluhkan anaknya hiperaktif. 

Sebenarnya yang ber hak mengatakan seorang anak hiperaktif adalah seorang Psikolog atau Psikiater. Ituptun setelah melalui rangkaian test, dan dari hasil test tersebut barulah disimpulkan apa yang dialami oleh anak ini. Tetapi kenyataan di lapangan seringkali orang tua dan mungkin bahkan para guru, dengan mudahnya melebel seorang anak ini hiperakitif. Padahal sebenarnya kita tidak dalam kapasitas untuk memberikan penilaian seperti itu. Ketika kita melihat seorang anak tingkahnya sangat banyak, gerakannya sangat banyak maka dengan gampang kita mengatakan “ohh.. ini anak ini hiperaktif”.

Anda perlu berhati-hati dengan perkataan ini. Karena hiperaktif berkaitan dengan kerusakan fisik di otak. Dan pengamatan saja belumlah cukup untuk mengatakan seorang anak hiperaktif. Seorang Psikolog atau Psikiater yang telah terlatih dalam bidangnya saja tidak berani secara serta merta mengatakan seorang anak hiperaktif hanya dengan melihat anak tersebut. Mereka akan melakukan serangkaian test dan kemudian menyimpulkan hasil test tersebut. Oleh karena itu sebaiknya, mulai sekarang kita harus berhati-hati apabila ingin mengatakan seorang anak hiperaktif. Kenapa? karena konsekwensi yang diterima anak ini sangatlah berat.

Hiperaktivitas adalah suatu gangguan perkembangan pada tingkat aktivitas anak, dimana anak memiliki aktivitas yang berlebihan (tinggi), atau suatu pola perilaku anak yang menyebabkan sikap anak tidak mau diam, tidak bisa focus perhatian dan impulsive (semaunya sendiri). Anak hiperaktif cenderung selalu bergerak dan tidak bisa tenang.

Ketika kita sedang mengatakan hiperaktif maka kitapun cenderung akan memperlakukan dia sebagai seorang anak hiperaktif. Dan disini permasalahan akan mulai berkembang. Anak yang sebenarnya normal, karena kita ekspetasikan sebagai anak yang hiperaktif maka akhirnya dia akan jadi seperti itu juga.

Bagaimana jika anda menghadapi anak seperti ini? Yang pasti anda perlu memeriksakan dia dulu kepada seseorang yang berwenang dalam hal ini adalah Psikolog atau Psikiater untuk memastikan memang tidak ada gangguan secara fisik. Bagaimana jika ada? Anda minta waktu kepada Psikolog atau Psikiater untuk memberikan pemecahannya. Itu adalah langkah terbaik yang anda bisa lakukan. Nah, jika ternyata dari hasil pemeriksaan seorang Psikolog atau Psikiater bahwa anak ini normal, maka berarti ini adalah masalah-masalah psikis atau mungkin masalah-masalah diluar itu tidak ada hubungannya dengan cacat otak atau tidak ada hubungannya dengan permasalahan syaraf-syaraf dalam diri anak tersebut.

Anak-anak yang sangat aktif seperti ini biasanya di karenakan gaya belajarnya yang memang membutuhkan gerakan-gerakan.Mengenai gaya belajar. Ada 3 macam gaya belajar dominan yang ada di masyarakat.

Ada anak-anak atau bahkan orang dewasa yang belajarnya sangat bagus jika dia melihat materi-materi itu di depan matanya. Jadi orang ini lebih dominan menggunakan mata untuk mempelajari sesuatu. Inilah tipe orang visual. Dia suka dengan gambar,dia suka dengan tulisan-tulisan, dia suka dengan grafik-grafik, dia suka apapun yang pokoknya dia bisa lihat.

Tipe kedua adalah tipe orang yang menggunakan pendengarannya. Ini adalah tipe orang Audiotori. Anda mungkin pernah menjumpai teman anda mungkin pada saat dulu masih bersekolah yang hanya mendengarkan saja dan dia bisa. Anda mungkin menjumpai dia duduk santai, dan teman di sebelahnya atau mungkin anda sendiri membaca pelajaran dan kemudian setelah anda selesai membaca dia sudah bisa. Hanya dengan mendengarkan saja dia sudah bisa menguasai materinya. Tetapi jika dia dimintai melihat papan tulis, melihat gambar-gambar atau diminta membaca sendiri maka itu akan sangat sangat susah. Inilah tipe orang-orang audiotori. Orang-orang audiotori menggunakan pendengaranya sangat dominan untuk menerima informasi,memprosesnya dan kemudian memahami dan mengerti informasi tersebut.

Nah,tipe ketiga yang cukup banyak kita jumpai di masyarakat adalah yang kita sebut: Tipe Kinestetik. Orang dewasa yang kinestetik bisa anda jumpai ketika dia telfon, dia akan mencorat-coret sesuatu dengan tangan satunya. Atau mungkin dia akan menggerakkan kakinya,seperti sedang bermain dram. Atau mungkin dia akan mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Jadi dia senantiasa membuat sebuah gerakan-gerakan bahkan pada saat dia diam pun. Terkadang anda akan menjadi senewen ketika dia ada di sebelah anda. Anda sedang asyik-asyiknya mendengarkan materi yang di paparkan di depan,dia malah mengetuk-ngetuk meja, menggerakkan kaki, menggoyang-goyangkan kepalanya,dimana hal ini benar-benar membuat kita menjadi frustasi karena gerakannya. Tapi itulah caranya mereka memasukkan informasi. Jika dia diminta diam, mendengarkan dan melihat itu adalah sebuah siksaan bagi orang-orang kinestetik.
Hal yang sama terjadi pada anak-anak,anak-anak kinestetik jumlahnya paling banyak di masyarakat.

Mereka tidak bisa duduk diam untuk menerima sebuah informasi. Mungkin dia perlu berdiri, mungkin perlu berjalan-jalan, mungkin perlu mengetuk-ngetuk meja dengan pensilnya. Atau mungkin dia perlu menggoyangkan kepalanya ke kiri ke kanan atau bahkan badannya. Hal ini sangatlah tidak mendukung pembelajaran di kelas konvensional tentunya. Dimana sang guru mengharapkan anak ini duduk diam tidak membuat gerakan sedikitpun,tidak membuat keributan dengan ketukan pensilnya di meja, atau bahkan mungkin dengan kakinya. Ketika seorang guru ini menekan untuk duduk diam maka sang anak menjadi sangat cemas. Mengapa? karena dia tidak bisa melawan dorongan yang muncul dari dalam dirinya untuk menggerakkan anggota tubuhnya. Dan akhirnya anak ini harus berjuang mengatasi 2 hal.

Yang pertama: Dia harus berjuang mengatasi dorongan dari dalam dirinya
Yang kedua : Dia harus berjuang memahami apa yang di sampaikan sang guru

Tentunya ini sangat menghabiskan energi sang anak. Nah, anak-anak yang kinestetik ini juga menjadi penyebab seorang anak kurang konsentrasi, seperti pada poin yang sebelumnya. Jadi jika anda menjumpai anak anda kurang konsentrasi anda coba cek apakah gaya belajar anak anda ini apakah kinestetik? Jika memang itu terjadi anda benar-benar perlu menyiapkan sebuah lingkungan pembelajaran dimana kinestetiknya terakomudasi dengan baik.

Semoga informasi ini dapat memberikan pemahaman tentang anak yang terlanjur atau tidak benar-benar hiperaktif.

Salam

Timothy Wibowo

6 Hal Yang Dapat Dilakukan Orangtua Ketika Anak Berbohong

1.Ketika anak melakukan kesalahan, beri tahu anak bahwa orangtuanya tidak dapat menyetujui tindakannya tersebut dan mintalah anak untuk berusaha tidak mengulangi lagi kesalahannya di waktu mendatang. Katakan pula bahwa meskipun tidak dapat menyetujui kesalahan yang dilakukan anak, orangtuanya sangat senang dan bangga bahwa anak telah berani berkata jujur, dan kejujuran tersebut sangat penting.

2.Memberikan pujian untuk semua hal baik yang dilakukan anak atau prestasi yang telah diraihnya. Dengan demikian, anak tidak haus pujian dan berbohong hanya demi mendapatkan pujian.

3.Jika anak berbohong untuk menutupi kelemahannya, orangtua harus memberi pengertian kepada anak bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Begitu pula dengan dirinya. Yakinkan anak bahwa di balik kekurangannya, dia pasti memiliki banyak kelebihan. Katakan kepada anak bahwa lebih baik fokus pada kelebihan yang dimilikinya dan berusaha mengoptimalkannya ketimbang selalu melihat kekurangannya, lalu berbohong untuk menutupinya. Ajari anak untuk selalu mensyukuri segala yang ada pada dirinya karena semua adalah karunia dari Tuhan.

4.Memberikan keteladanan kepada anak. Jangan sampai orangtua menuntut anak untuk senantiasa jujur, sementara mereka sendiri melakukan kebohongan.

5.Melindungi anak dari pengaruh buruk pergaulan, tayangan televisi, dan beragam bacaan yang dapat membuat anak terinspirasi untuk berbohong.

6.Jika anak berbohong, berikan dia konsekuensi yang positif dan mendidik. Konsekuensi yang mampu membuatnya belajar bahwa berbohong adalah hal buruk yang tidak boleh dilakukan, membuatnya belajar disiplin, dan memberi dia pembelajaran akan tanggung jawab.

10 Hal Yang di Inginkan Anak

(Penting untuk Dipahami dan dilakukan)

Sebagai orangtua, kebanyakan dari kita lebih memperhatikan perilaku anak, dan bukannya perilaku kita sebagai orang tua. Tentu ini sesuatu yang tak adil bagi anak. Cobalah lihat diri Anda dari sudut pandang anak. 

Penelitian terhadap seratus ribu anak menunjukkan, ada 10 hal yang paling diinginkan anak dari orang tua mereka:

1. Tidak bertengkar di hadapan mereka.
Anak selalu mencontoh tindakan orang tua. Apa jadinya jika setiap hari orang tua adu mulut di hadapan mereka?

2. Berlaku adil terhadap semua anak-anaknya.
Setiap anak memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Yang mereka butuhkan bukan perlakuan yang sama, melainkan perlakuan yang adil, sesuai kebutuhan masing-masing anak.

3. Orang tua yang jujur.
Orang tua yang meminta anaknya berbohong, tentu tidak sadar pada apa yang tengah dilakukannya. Sekali lagi, anak mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya.

4. Toleran terhadap orang lain.
Toleransi akan mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan.

5. Selalu menyambut teman-teman mereka dengan ramah.

6. Mau membangun semangat tim bersama mereka.
Kekompakan antar-orang tua dan anak akan sangat berpengaruh saat anak beranjak dewasa.

7. Mau menjawab setiap pertanyaan mereka.
Luangkan waktu untuk mereka. Jika Anda tak mampu menjawab, katakan Anda akan mencari tahu lebih dulu.

8. Mau mengajarkan disiplin,
namun tidak di depan orang lain, terutama teman-teman mereka. Intinya, jagalah perasaan anak.

9. Lebih melihat sisi positif ketimbang sisi buruk mereka.

10. Konsisten.
Bayangkan, apa yang dirasakan anak jika hari ini Anda menjawab A dan besok menjawab B untuk pertanyaan yang sama yang diajukan anak.

8 Penyebab Anak Berperilaku Keras Kepala dan Suka Melawan Orangtua

1. Sikap otoriter orangtua, yaitu orangtua terlalu menekan atau memaksa anak untuk menuruti semua kenginannya tanpa melihat kondisi dan kemampuan anak. Orangtua bersikap otoriter kepada anak biasanya karena mereka merasa serbatahu apa yang terbaik untuk anak dan apa yang harus dilakukan anak. Orangtua meyakini bahwa untuk berhasil dalam membimbing, mengarahkan perilaku, dan mendidik anak sehingga menjadi anak yang baik diperlukan cara-cara yang tegas dan keras. Anak yang merasa terus ditekan atau dipaksa dan merasa tidak mampu memenuhi semua keinginan orangtua pada akhirnya akan menunjukkan sikap melawan.

2. Berbicara kepada anak di saat yang tidak tepat. Kerap kali terjadi, misalnya orangtua meminta anak melakukan sesuatu, padahal anak tengah asyik bermain atau menikmati aktivitas kesukaannya. Anak pun merasa terganggu dengan permintaan orangtuanya tersebut. Dalam kondisi seperti ini, anak biasanya akan mengabaikan permintaan orangtuanya, menunda melaku¬kannya, atau langsung menolaknya. Jika orangtua terus memaksa, sangat mungkin akan terjadi ketegangan atau konflik dengan anak.

3. Anak sangat menginginkan sesuatu, tetapi orangtuanya tidak dapat memenuhi keinginan tersebut. Anak pun kemudian menunjukkan perilaku keras kepala atau suka melawan orangtua. Anak melakukan ini untuk mencari perhatian orangtua dan sebagai cara untuk menyampaikan protes. Anak berharap dengan perubahan perilaku yang ditunjukkannnya, orangtua mau memenuhi keinginannya.

4. Anak dibiarkan tumbuh tanpa bimbingan. Hal ini bisa terjadi ketika orangtua terlalu sibuk dengan pekerjaannya atau memang orangtua kurana mampu memberi perhatian dan didikan yang dibutuhkan anak hingga nilai-nilai kebaikan, seperti sopan santun, menghargai orang lain, atau batasan benar-salah, boleh¬ tidak boleh, tidak tertanam dengan baik pada diri anak. Anak pun tumbuh menjadi pribadi yang egois dan suka melawan orangtua.

5. Pengaruh lingkungan. Anak begitu mudah meniru perilaku teman-¬temannya, orang-orang lain yang dikenalnya, atau tayangan televisi. Ketika anak mendapati teman-temannya atau orang lain menunjukkan perilaku suka melawan kepada orangtua, anak-anak pun akan dengan mudah melakukan hal yang sama.

6. Mencontoh perbuatan orangtuanya. Mungkin anak sering melihat kedua orangtuanya bertengkar atau bersikap keras kepala. Atau, anak melihat orangtuanya tidak patuh kepada nenek dan kakeknya. Anak pun dapat terdorong untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orangtuanya.

7. Anak terlalu dimanja oleh orangtuanya. Semua keinginanya selalu diberikan. Jika suatu saat ada keinginannya yang tidak dipenuhi, anak akan memprotes dan melawan.

8. Hubungan antara orangtua dan anak tidak harmonis. Ikatan kasih sayang dan pengertian antara mereka pun kurang. Kondisi ini rentan menimbulkan konflik antara orangtua dan anak.

4 Proses Terbentuknya Sifat Agresif Pada Anak

1. Observed Aggression
Adalah tahap dimana anak-anak mengamati perilaku-perilaku agresi yang ditayangkan oleh media. Anak-anak memulai memberikan perhatiannya, mereka memilih apa yang mereka anggap menyenangkan dan di luar kebiasaan.

2. Disinhibitation
Kondisi kurangnya kemampuan untuk menahan diri. Kemampuan ini berkurang akibat dan pengamatan yang dilakukan berlebihan. Anak-anak mulai “terikat/kecanduan”.

3. Desensitization
Berkurang atau hilangnya kepekaan anak-anak terhadap batas-batas kekerasan. Perasaan yang tumpul, kurangnya rasa belas kasihan. Berkurangnya dorongan untuk menolong orang lain dan sikap prososial.

4. Habitualization
Menjadi kebiasaan untuk melakukan kekerasan dan terbiasa pula berada pada lingkungan yang keras. Hal ini lebih memberikan rasa nyaman dan menyenangkan ditambah dengan dukungan sosial yang memberikan reinforce (penguat) padanya.

Pencegahan, berhati-hatilah dalam memberikan dan mengijinkan pengaruh media didalam kehidupan anak, dan berilah contoh sikap yang tepat.

Temanku, Ahira : KEBEBASAN



Dear Ika, apa arti kebebasan untuk Ika?

Kalau menurut saya, kebebasan adalah hak manusia untuk mencapai kebahagiaan individu tanpa merusak kebebasan individu lain.


Kebebasan merupakan tempat bergantungnya ketinggian harga diri manusia. Setiap kebebasan hakikatnya adalah aturan yang menjadi pilihan.

Akal dan kecerdasan tidak ada artinya tanpa kebebasan.
 
Kebebasan juga dapat berarti kehendak bebas manusia yang dengannya kita dapat memutuskan suatu hal dari banyak pilihan-pilihan dan peristiwa yang terjadi dalam hidup kita.
 
Kita memiliki kebebasan, untuk mencintai atau membenci...
Marah atau memaafkan...
Terpuruk atau bangkit...
Bahagia atau sebaliknya...

Kita bebas memilih atau mengontrol respon dari setiap kejadian yang datang dalam kehidupan kita.
Itulah kebebasan.

TAPI... walaupun kita memiliki KEBEBASAN dalam memilh respon untuk setiap kejadian, saya sarankan kita tetap fokus memilih pada KEBEBASAN yang bersifat POSITIF.

Rangkullah kehidupan.
Rengkuhlah cinta baru.
Penuhilah tawa, keriangan di setiap hari-hari Ika
Bukalah hati untuk kemungkinan-kemungkinan yang baik: rezeki, pekerjaan, orang-orang, lingkungan baru yang membahagiakan.
 
Anda BEBAS untuk menjalani itu semua!
Dan menjadi bahagia.
 
Mulai sekarang, saya harap pikiran dan hati Ika
TERBEBASKAN dari apapun yang sempat mengungkung selama ini.
Apapun hal yang membuat hidup Ika tidak bahagia.
 
Tuhan tidak pernah mengutuk kita, namun kitalah yang sering mengutuk kehidupan dan diri kita sendiri.

Kita memiliki berbagai macam kebebasan,
Pilihlah kebebasan-kebebasan yang baik.
Buatlah hal-hal baik, terbaik yang bisa kita lakukan setiap harinya.

Selalu pilih respon terbaik, pikiran & emosi baik, pada setiap kejadian.
Jalanilah setiap kebebasan dan kehidupan baru Ika dengan
energi positif, hingga menjadikan hidup ini pernuh warna... :-)

Temanmu,
Ahira