Senin, 15 April 2013

Fisikawan Kita - Lord Rayleigh


Lord Rayleigh (1842 - 1919)
                                     Lord Rayleigh adalah seorang ahli fisika dari Inggris.
Ia lahir pada tanggal 12 November 1842 di Langford
Grove, Maldon, Essek Inggris dengan nama John William
Strutt, dan meninggal pada 30 Juni 1919 di Terling Place
Witham, Essex. 

Pada tahun 1861 ia masuk kuliah di
Trinity College Cambridge dan lulus tahun 1865.
Sumbangan Rayleigh yang lain adalah penjabaran
teori gelombang, elektrodinamika, hamburan cahaya,
persamaan fungsi gelombang permukaan pada bidang,
aliran fluida, hidrodinamika, elektromagnetik, kapilaritas,
kekentalan, dan fotografi.

DAFTAR ISTILAH




PAPYRUS : Kertas tulis yang pertama

KORAN : Sebutan orang Barat bagi Quran.

KREDO : Creed, Iman.

MUZHIKS : Petani – petani.

SKEGGOX : Pisau tajam, kapak bengkok. Yang berbentuk sedemikian rupa untuk menyisit kuliat atau untuk membelah tengkorak.

SCRAMASAX : Pedang bermata satu yang bertatakan tulisan – tulisan supaya diberkati dewa.

VIZIERS : Bangsawan2 Mohammedan.

GRANDEES : Bangsawan2 Spanyol.

CHORBOYS : Anak laki2 dalam paduan suara gereja.

INQUISITIO : Penyelidikan.

MARRANO : Babi.

BURGHER : Perkotaan

MATZOS : roti tanpa ragi yang dimakan oleh orang2 Yahudi selama  hari besar.

DER  TAG : “HARI”

AVERROES : Sarjana yang terkemuka dari dunia islamik, tidak pernah dipelajari orang2 kristen zaman pertengahan karena Gereja  mengaharamkan karya – karyanya.

GET(Gueto) : Cerai.

BORGHETTO : Pojokan kecil.

GHETA : Aturan2 pengecoran logam

KABALA : Menerima (Hebrew Kabeil )

KINANHORRA : kependekan Yiddish dari satu kata Yiddish dan dua kata hebrew, kein ayyin ha’ra’ah, yaitu “tanpa mata kejahatan”.

BRONX : Jangan menatap jahat kepadaku


Minggu, 14 April 2013

No Tittle ^_^



Life will be so beautiful

With a person to share with


'Cause having a person to understand is better


Than many others who leave in hard condition.


Makes hopes as long as you can, 'cause your life will mean nothing, 


when you stop hoping...

Learn from yesterday,


Do your best today,


Plan for better tommorow..


Trust your heart,


and it will guide you to face this life..


May today just the begining of many wonderful days to come...

DIALOG : Sampai Kapan...




W  : “Sampai kapan kau mau terus berada di sampingku?”

L   : “Terlambat menanyakannya setelah 6 tahun. Menurutmu, sampai kapan?”

W  : “Aku tanya sekali lagi. Sampai kapan kau akan bertahan ada di sisiku?”

L   : “Sampai Dia menjemput salah satu di antara kita…. Hingga di hari itu, mungkin aku sudah lupa bahwa aku pernah mencintaimu di dunia…”

W  : “Apa kau yakin?”

L   : “InsyaAllaah…”

W  : “Apa yang membuatmu begitu yakin?”

L   : “Aku selalu meyakini apa yang sudah kuputuskan. Lalu, apa kau juga yakin bahwa sampai nanti akau akan tetap jadi satu-satunya?”

W  : “Dasar bodoh! Kenapa baru kau tanyakan sekarang? Kau pikir, semua hal yang sudah kulakukan, semua perjuangan ini demi siapa?”

L   : “Maka, kau juga sudah menanyakan hal yang bodoh padaku…”

CERPEN : Aku Hanya Butuh...




Hari itu, ketika untuk kesekian kalinya air mataku tertahan di dada, berusaha membohongi mata agar jangan mengalirkannya begitu saja, berusaha membohongi otak bahwa psikisku baik-baik saja. Dan…ah, sesak itu bergumul di jiwa….

Siang itu, aku melihat ibu sibuk menata tumpukan kertas yang semuanya ia keluarkan dari dalam tas kerjanya. Ia baca satu persatu untuk memastikan bahwa kertas-kertas itu memang makin penting. Kulihat banyaknya rekening listrik dan PDAM yang ibu kumpulkan di dalam tas itu, entah mengapa tak di buang.

Sebagai menteri keuangan dari keluarga kecil yang di bangun susah payah dengan ayah, mungkin semua dokumen kecil itu penting, untuk dilaporkan pada kepala keluarga di rumah kita.
Setelah puas memandangi jari jemarinya yang sibuk membolak-balik kertas, sambil tiduran di kasur, aku bertanya padanya
.
“Pernahkah Ibu punya teman yang sangat dekat?”
Ia berhenti sejenak, berpikir, dan tanpa curiga, balik membalas pertanyaanku.


“Teman apa? dulu? Kalau teman main, ada beberapa…,” ujarnya.

“Ya, teman curhat, semacam itu,” lanjutku.

Masih tetap dengan memandangi tumpukan kertas lengkap dengan tulisan kecil-kecil yang nyaris hilang itu, Ia  menjawab santai.


“Ibu nggak punya. Ibu selalu cerita sama embah, atau sama bulik (adik ibuku, tepat 2 tahun lebih muda).” Aku manggut-manggut.

“Kenapa?”
“Lha buat apa? Toh, akhirnya Ibu hidup, menikah dengan Bapak. Semuanya Ibu jalani bersama Bapak. Semua cerita hidup Ibu bagi sama Bapak. Setelah menikah, yang kita butuhkan ya cuma suami kita kok….”
Aku terdiam. Mataku mulai berkaca-kaca. Ya. Toh aku masih punya dirimu, ibuku... dan dia, adikku.
Ah, ya.  

Dengan begitu, seharusnya aku tak pernah perlu terluka...

PUISI : Bulan Bicara Padaku?



Saat desah nafas sang malam mulai mengaung,
Mataku terperanjak menanti bayangmu.
Rembulan pun cemburu, dan berkata:
Tak bisakah kau pejamkan matamu dan mulailah bermimpi tentang hal lain yang dapat kau kerjakan?

Kemudian raungan Kucing membuatku terjaga!

jemariku menyentuh kalbumu!
Namun sayang,
Kau telah lebih dahulu pergi meninggalkan aku...

Hingga semua bibit cinta yang mulai berkembang tak sempat tercium olehmu baunya..

dan rindu yg selama ini mencari perlabuhannya,
hanya impian belaka...
Layaknya aku yg bermimpi sang bulan bicara padaku

PUISI : Karena Dikau

dibalik rona jingga cahayamu...

dasar putih tergores hitam..

basah,,,

oleh hujan t'lah menghanyutkannya...

goresan tinta biru dikertas ini...

sendiri,,,,

kunyanyikan syair lagu bernada duka....

karena dikau...










PUISI : DAN AKHIRNYA...



Dan akhirnya malampun datang.
kelam menghampiri setiap sudut yang tersembunyi.
menyerka tawa serta anganku.

kini aku sendiri.
hampanya hati yang tak pernah diketahui.
simfoni kehidupanku meredup.
tinggalkan kenangan dalam sejuta harapan.

ku akui ku masih menanti.
tak kunjung ku berpaling.
tapi keadaan diri mengais sepi.
berujung malang!!.dan aku mulai jengah!!
tapi sungguh sayang,,
aku tetap merindukanmu...
meski telah kudapatkan di lain hati...

Rabu, 10 April 2013

DESAIN-KU (4)

Vennytha Virgocha 

Buat Temenku yang Paling GILA ! :D






DESAIN-KU (3)

Nadira Elsa Vyantri

Desain buat adikku Nadira ^o^


DESAIN-KU (2)

Dewi Anggraini

Happy Birthday My Beloved Partner ^o^



DESAIN-KU (1)

Ginda Zamzabil Okfriano

Masa Depan ku :)




CERPEN : Dalamnya Akar Pohon Cinta (Part 2)


         Waktu demi waktu berlalu, kini aku telah jadi dokter spesialis hati. Seperti yang sudah dijanjikan. Aku mengelola rumah sakit ayah di Singapura. Entah apa yang aku pikirkan. Aku meninggalkan semuanya dan pindah ke tempat yang bahkan belum aku kenal. Aku meninggalkan ayah dan ibu di Nusantara, teman – teman, dan kenanganku.

         Pagi ini cuaca buruk. Untung saja tidak hujan. Namun gerimis mengundang. Aku telat karena macet dijalan. Mobilku mogok. Jadi harus dibawa kebengkel dahulu. Aku tengah menangani satu pasien. Yang aku belum tahu siapa. Baru hari ini hendak diberitahukan oleh dokter.

          Kamar 177 di lantai 3. Saat masuk, aromanya sedap. Tidak seperti kamar pasien yang lain. kulihat disekitar. Jelas saja, diruangan ini banyak tanaman hidup bunga – bungaan. Dokter bilang keluarganya rajin membawakan pasien bunga. Termasuk bunga dalam pot dan diletakan didalam ruang rawat.

          Aku melihat sekitar.

“pasiennya mana dok?”

“Aku disini!” suara seorang perempuan.

Dari teras. Kulihat ia sedang menyirami bunga – bunga tersebut. Aku mendekatinya. Ia berbalik dan menatap kearahku. Mitha! Ha?

“Apa kabar dokter Rio?” tanyanya sambil tersenyum.

Aku hanya bisa diam. Menatap wajah yang ada dihadapku sekarang ini.

Mungkinkah? Aku berjalan mendekati. Kutatap kedua matanya,

“Mitha?” tanyaku terpaku.

“em. Lupakah? Haha... aku sudah mendengar semua dari dokter Hans. Ia bilang dirimu yang akan merawatku. Jadi aku bersemangat hari ini.” Kulihat air matanya menetes.

Aku tetap diam. Kemudian ia beranjak dan mendekapku. Menyandarkan -entah bahagia atau sedihnya aku tak tahu- dibahuku. Aku yang masih tak percaya atas apa yang ada didepanku, membelainya.

          “Maafkan aku yang telah pergi tanpa memberi kabar padamu. Waktu itu aku sudah tidak tahu harus apa lagi. Dokter bilang kanker hatiku ini sudah stadium akhir. Dan umurku tinggal 5 bulan lagi. Makanya, selama 5 bulan itu aku habiskan waktu bersamamu. Diakhir bulan kelima, hari Kamis, aku ingat betul. Itulah saat terakhir aku menunggumu sepulang sekolah. Aku dan ayahku menunggumu digerbang. Tak lama setelah itu, aku batuk darah lagi. Ayahku memutuskan untuk membawa aku pulang. Namun aku sudah tak sadarkan diri. Ditambah lagi aku menderita lemah jantung. Lantas, ayah membawaku langsung kerumah sakit.  Aku koma selama hampir 2 tahun. Dokter bilang, kankerku ini baru stadium 3. Waktu itu kesalahan. Kenapa aku bisa sampai koma? Dokterpun tak tahu. Tak ada satupun dokter yang bisa beri jawaban jelas. Ayahku mulai putus asa dan ingin melepaskanku. Tapi ibu tak mau.”

“lalu?” tanyaku penasaran.

          “Lalu ayah memanggil nenekku yang seorang paranormal. Nenekku mengatakan bahwa aku tidak hidup. Tapi aku juga tidak mati. Aku kehilangan arwah. Seperti tersesat. Aku merasa duduk disebuah danau. Tempat dimana kita terakhir kali bertemu. Sangat lama aku disana. Seperti waktu tak ingin memutarkan siang dan malam. Datar seperti itu saja. Kemudian aku lihat dirimu. Sedang bicara sendiri. Aku juga lihat kau berjanji ditepi danau, meneriakkan angin, air, alam, seperti orang gila.”

Aku tak kuat menahan tangis. Air mataku menetes tanpa kusadari. Menyesal, terharu, bahagia, entah air mata apa yang aku jatuhkan saat ini. Melihat senyumnya lagi, mendengar suaranya lagi, benar – benar aku tak percaya. Kini, hari – hariku kembali hidup. Biarlah kuhabiskan waktu demi bersama Mitha.

          Hari demi hari berlalu, meninggalkan semua tangis dan tawa yang pernah dilalui. Tak terasa, sudah 6 bulan berlalu semenjak pertemuan aku dan Mitha. Setelah hari itu, kami selalu bersama. Aku rajin kerumah sakit karena ingin menjenguknya. Hari ini Mitha mengajakku keluar untuk jalan – jalan. Aku sudah bilang untuk tidak keluar. Namun Mita tetap memaksakan diri hendak keluar. Orangtuanya juga sudah peringatkan. tapi ia tetap bersikeras.

Kami pergi ketaman disebelah rumah sakit. Disana ada sebuah danau buatan. Dulu, aku yang sengaja meminta untuk dubuatkan danau disekitar rumah sakit.

          Kami duduk dibawah pohon. Udaranya sejuk dan angin bertiup sedang bersahabat. Mitha terlihat nyaman dengan suasana ini.

“Mitha, kelak saat nanti kamu sembuh, aku ingin kamu jadi milikku selamanya. Dan aku akan jadi milikmu juga selamanya. Hm.. bahagianya. Kamu tahu tidak, benih – benih cinta yang dulu kamu sebar, kini telah jadi pohon. Hijau dan lebat daun dan bunganya. Namun aku ingin lekas berbuah. Agar kita dapat memetiknya bersama – sama. Bagus kan? Kamu bisa bayangkan kan, Mitha??”

“Mitha, Mitha, Mitha...?”

Aku melihat wajah mita telah pucat dan  tak ada denyut jantung lagi.

“tidak... TIDAK... MITHA... jangan pergi...!!! jangan tinggalkan aku sendirian.!!! MITHAAA...!!!!”

***

4 tahun kemudian

“Aku pulang...!”

 “Eh... Rio, sini nak!” panggil ayahku.

Aku lihat keluarga Om Coro dirumah. Beserta kedua putrinya. Satu dewasa, dan satu lagi masih anak – anak.

“Ada apa yah?” tanyaku sambil mencium tangannya.

Ayah tak langsung menjawab pertanyaanku. Ia kembali bicara pada Om Coro.

“Kenalkan, ini Rio. Anak sulung saya. Dia seorang dokter spesialis hati.” Ujarnya sambil menarikku duduk disebelahnya.

“wah, wah, wah, gagahnya anakmu satu ini. Padahal dulu masih imut dan lucu. Sekarang, sungguh tampan.” Ujarnya sambil menatap tajam kearahku.

“jangan terlalu memuji om. Biasa aja. Namanya aja pertumbuhan dan perkembangan” sanggahku sambil tersenyum – senyum muka sinis.

“tapi bener kok kata papa!” ujar Ara, putri sulung om Coro.

          Aku tahu maksud dari kedatangan Om Coro dan keluarganya kemari. Mereka ingin menyebar benih cinta didasar hatiku. Namun aku tahu. Benih itu tak akan bisa tumbuh. Karena didasar hatiku telah tumbuh banyak pohon cinta yang tinggi nan rimbun bersama Mitha. Akarnya kuat nan dalam. Karena setiap hari kupupuk dengan kesetiaan. Kemudian dikuncup – kuncup pohonnya, kusiram secara rutin dengan kasih sayangku. Dan pada akhirnya akan berbunga, memberikan pesona yang indah berupa hiasan bunga dibalik dedaunannya.

          Pohon cintamu kini tumbuh semakin besar. Aku takut, dasar hatiku tak kuat menahan akar – akarnya yang semakin kuat dan besar. Andai kau masih disini. Aku butuh hatimu, agar pohon ini mendapatkan tambahan tempat untuk tumbuh. Tahukah wahai bidadari hatiku. Aku rindu mendengar suaramu. Aku ingin bernyanyi dibawah pohon cinta ini berdua. Disana telah kuukir nama kita. Dan telah kubuatkan rumah yang berdindingkan kesabaran dan ketulusan. Kemudian atapnya kurajut dari benih – benih yang gugur. Agar kelak suatu nanti, kau bisa lihat bagaimana perjuangan benih tersebut untuk dapat tumbuh didasar hatiku.

          Alam, kini bukan karena penantian lagi ia pergi meninggalkan aku. Ia pergi karena mencintaiku. Namun aku harus bagaimana? Hatiku telah terpenuhi oleh cintanya. Aku tak dapat begitu saja mencabut pohon yang telah berakar dalam dan kuat dari dasar hatiku, kemudian menggantinya dengan yang lain.

Empat tahun berlalu sudah, semenjak kepergian Mitha. Hatiku masih belum bisa menerima cinta lain. Walau banyak benih lain yang lebih baik, namun hati ini selalu menolaknya. Cinta ini terus tumbuh dalam diriku. Semakin hari semakin aku memendam kerinduan padanya, rasa cinta itu semakin kuat dan dalam. Dalamnya akar pohon cinta ini membuat ia tak akan pernah tumbang. Sampai kapanpun.


CERPEN : Semua Tentang Kita (Part 3)


Keesokkan harinya kami berkemas – kemas untuk pergi. Entah kemana arah dan tujuannya. Kami sendiri tak tahu. Asalkan bisa berlindung dari panas dan hujan, serta gangguan – gangguan makhluk jahat. Terutama Anggi. Fisiknya yang masih lemah tak memungkinkan kami untuk menempuh perjalanan ke Sungai Lilin. Tempat dimana pertama kali aku melihat dunia. Disana masih berdiri rumah kami yang lama. Sudah agak reyot memang. Tapi setidaknya masih bisa untuk berteduh dan berlindung.
Akhirnya kami putuskan untuk menginap dirumah bu Weni. Salah satu kerabat bunda. Untungnya beliau mengizinkan. Kami bermalam disana. Bu Weni tinggal bertiga. Suaminya telah tiada. Ditemani kedua anaknya yang masih berumur setengah baya. Laki – laki dan perempuan. Kami tak hanya tinggal. Tak jarang bunda membantu bu Weni mengerjakan pekerjaan rumahnya. Aku juga ikut membantu. Tapi hanya terkadang saja. Karena biasanya aku mengasuh Anggi. Kedua anaknya tidak nakal. Mereka sangat baik. Kadang menemani aku bermain bersama Anggi. Kini, sudah hampir 3 minggu kami tinggal dirumah bu Weni. Bu Weni mengizinkan kami tinggal bersamanya. Tapi bunda menolak. Karena bagaimanapun kami harus kembali ke tempat kami di Sungai Lilin.
Hari ini kami berkemas barang untuk pergi. Walaupun bu Weni memaksa kami untuk tetap tinggal, tapi bunda tetap ingin kembali ke Bogor.
“jika kalian disana kesusahan, kembali saja kemari. Kita berteman akrab sejak lama. Jangan sungkan bila butuh bantuanku. Karena bagaimanapun juga keluargamu telah banyak berjasa membantu keluargaku. Maaf kalau perlakuanku ataupun anak – anakku tak baik pada keluargamu. Hati – hati. Selamanya aku tak akan melupakan kalian semua.”
Isak tangis bu Weni dan Bunda pecah. Aku ikut terharu dan memeluk kedua anak bu Weni. Dinda dan Dandi. Tanda perpisahan tiba.
“Iya Wen. Kamu juga teman terbaik aku selamanya. Maaf juga kalau selama aku tinggal disini, aku selalu menyusahkanmu dan anak – anakmu”.
“Tidak, tidak. Aku tak merasa terganggu. Bahkan aku senang karena rumahku tak sunyi seperti biasanya.” Ujar bu Weni.
Dan terakhir mereka saling berpelukan sebelum masuk ke dalam mobil travel yang kami pesan.
***
Kami sampai dirumah lawas kami. Dengan tembok kuning dan jendela serta pintu yang berlis hijau. Capek sangat terasa disekujur badan. Semuanya tertutup debu. Ditambah lagi serangga – serangga nakal dan kecoa yang tanpa seizin kami tinggal dirumah. Aku masih ingat saat – saat bahagia bersama ayah, juga kakak disetiap sisi ruang dalam ruang itu. Pahit manisnya, dan semua canda serta tawa yang meramaikan suasana di malam hari.
Hari pertama, aku dan bunda hanya membersihkan bagian dapur dan kamar saja. Karena tak sempat tuk membersihkan ruang lainnya. Lelah sedikit demi sedikit membelenggu sekujur tubuh kami. Apalagi Anggi yang mulai sesak nafasnya karena terlalu banyak debu. Karena merasa kurang nyaman, kami akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah bu Ningsih. Tetangga sebelah rumah. Ia tinggal hanya berdua. Ia dan anak bungsunya yang baru berusia 3 tahun. 2 anak perempuannya yang lain tinggal di Palembang bersama suami masing – masing.
Malam itu terasa cepat berlalu. Karena lelahnya hari yang menyita segala kekuatan kami. Hingga saat hendak tidur lelap malam itupun, aku sempat menangis. Teringat sosok sang ayah yang selalu menemani ibu tidur. Aku yang selalu diberi nasehat ayah sebelum tidur. Mimpi – mimpi indah ayah yang masih tengiang dibenakku, dan segala harapan ayah untuk esok hari,  sungguh indah. Namun pilu. Kuraih buku diary dari dalam tasku.
Malam ini terasa sangat hampa tanpa kehadiran malaikat pelindungku disini. Bulan dengarkan lantunku… aku ingin engkau tahu, ku kan selalu merindu. Hilangkan rasa letihku. Aku yang selalu rindukan tawa candanya dalam hatiku. Masih ingat ku saat dimana aku merasakan hangatnya peluk darinya.
Aku ingat saat ia terbaring sakit. Rintihnya sungguh memilukan hatiku. Ingin aku menciumnya. Dan ucapkan cepat sembuh. Namun sungguh, sekalipun tak pernah kulakukan. Walau kedua tanggannya t’lah menyambutku tuk mendekapnya.
Tuhan, sekarang ia telah tiada. Sosok ayah yang selama ini aku banggakan. Maafkan Ayu ayah. Ayu durhaka pada ayah. Ayu jahat sama ayah. Tak mau menjaga  ayah dikala sakit, tak mau menurut kata ayah.
Andai ayah masih disini, Ayu ingin sekali saja… walaupun hanya sedetik tuk ucapkan maaf yang sebesar – besarnya untuk semua kesalahan Ayu pada ayah. Bahkan saat ayah sedang bekerja keras mencari nafkah, Ayu tak pernah sedikitpun berfikir betapa susahnya ayah tuk menafkahi keluarga. Peluh, keluh, kesah yang ayah rasakan, Ayu tak pernah fikirkan itu.
Ayu ingat saat Ayu terbaring sakit, ayah seperti orang yang kebakaran jenggot! Seakan – akan ayu ini adalah nyawa ayah. Kesana – kemari mencari obat untuk Ayu. Namun apa yang Ayu pernah lakukan pada ayah, adalah hal yang sangat mengecewakan hati ayah. Tiba saat ayah yang sakit, Ayu hanya ucapkan… Ayah sakit apa? Cepat sembuh ya!  sungguh, tak terfikir Ayu untuk berusaha mencarikan obat, ataupun memanggil dokter ataupun bidan untuk mengobati ayah. Ayu selalu memberatkan semua pada ibu yang kian hari makin lemah.
Maafku sekarang sudah tak guna. Hasratku telah mati karena harapku telah lenyap. Hanya dapat ngiang tiap kenangan dan memori tentang dirimu.

Bait terakhir ku gores ungkapanku pada diaryku, saat itulah ku terhenyak dari semua mimpi burukku. Kembali ku pada masa sekarang saat bunda usap pundakku dan meneteskan air mata.
Dan lembar terakhir album kenangan itu tertera sebuah harapan indah seorang pemimpin yang perkasa. Yang selama ini jadi peran utama dalam penantian panjangku.
“Selamanya kita akan hidup dihati masing – masing. Cintaku pada kalian selamanya. Sampai ku menutup mata”
Beserta sehelai foto berefek sephia ukuran 3R, ayah memeluk aku, Rendy kakakku, Bunda, Anggi, dan Lara seusai Lara dilahirkan. Itulah pertama kali dan terakhir kalinya keluarga kami utuh dan berkumpul bersama dalam satu cinta penuh kasih. Dan aku akan tetap menanti, ‘tuk lampiaskan rindu yang selama ini terpendam. Karena semua yang telah terjadi begitu sulit tuk direlakan.

CERPEN : Semua Tentang Kita (Part 2)


Saat itu angin bertiup merdu. Seperti biasa dalam suasana senja hari. Namun angin itu membawa polusi serta gas pencemar lainnya yang diciptakan oeh saudara – saudaraku. Aku tinggal di salah satu kompleks perumahan di Surabaya.
Sore itu, Aku memeluk hangat simungil Anggi, adikku yang masih balita di teras atas. Rumahku berlantai 2. Sayup – sayup matanya mulai terpejam, dengan iringan lagu sendu yang terucap dari mulutku. Kepalanya terkantuk – kantuk kekanan dan kekiri. Geli aku dibuatnya. Hingga akhirnya dia sudah benar – benar siap untuk diistirahatkan. Pelan – pelan ku rebahkan tubuh kecilnya yang masih rentan ke ranjang berpagar dihiasi segala bentuk mainan khas balita. Diatas kasur empuk yang dulu juga pernah kukenakan. Terdengar suara bunda memanggilku dari dapur.
“Ayu..Ayu…!”
Nadanya sedikit naik. Ya, karna itulah bundaku. Suaranya memang agak kecil. Jadi jika memanggil harus sekuat – kuatnya.
“iya bunda..”.
Aku segera turun ke lantai bawah. Mencari sumber suara kesegala arah tuju yang dapat kupandang.
“ada apa bun?”.
Bunda menoleh kearahku dengan muka melas. Ia terduduk di sudut dapur yang masih berantakkan dengan segala jenis peralatan memasaknya. Ia merintih memegangi tangannya.
“ya Allah bunda! Apa yang terjadi? Tangan  bunda? Ya ampun, berdarah!”
Bunda tak menjawab. Ia merintih kesakitan. Dengan tetap memandangiku.
“Ayu ambil kotak obat dulu ya bun, Bunda tunggu disini!”.
Dengan segera kubantu bunda berdiri dan kuraih sebuah kursi agar dia dapat duduk bersandar dengan nyaman. Tangannya teriris pisau. Dalam dan lebar. Hingga daging segar dan tulang putihnya tampak olehku.
Beberapa seketika aku kembali dengan membawa sebuah kotak bertanda plus berwarna merah. Kuraih sehelai kapas untuk menghapus darah yang berceceran di tangan bunda. Lalu kuambil sebuah botol kecil berwarna putih bertuliskan alcohol.
“Tahan sedikit ya bunda.”
Aku mulai membasahi luka bunda dengan alcohol itu. Bunda menjerit. Dan ia hendak menarik tangannya dari peganganku.
“bunda tahan!”
“sakit Yu..!” ujarnya.
“Iya. Tapi hanya sebentar bunda. Biar lukanya cepat sembuh”. 
Bebepa waktu kemudian aku telah selesai membalut luka bunda dengan baik dan rapi. Sedikit pengalaman. Karena semasa SMA dulu aku bergabung dalam organisasi PMR. Dan alhamdilillah aku dipercaya sebagai ketuanya.
Ah…sudahlah! Itu dulu. Sekarang sudah tak lagi. Aku lanjutkan pekerjaan bunda didapur. Ya, walaupun aku tak begitu pandai seperti bunda, tapi sedikit – sedikit aku bisa. Ditemani bunda untuk membimbingku memasak. Seberapa banyak aku harus memasukkan bumbu, memasukkan garam, penyedap rasa, dan sebagainya.
Selesai sudah pekerjaanku didapur. Satu lagi, yaitu membuatkan ayah secangkir kopi hangat. Kebiasaan ayah yang tak dapat dihindari tiap pagi dan malamnya. Kini sudah menunjukkan pukul 17.13 WIB. Aku bergegas mandi. Begitu pula bunda. Ia bergegas memandikan Anggi sebelum terlalu malam. Setelah mandi, kami biasanya duduk di teras depan lantai bawah untuk menanti kedatangan ayah.
Lama kami menanti. Namun yang dinanti tak kunjung datang. Kemudian, seolah disambar petir. Hancur berkeping – keeping segala harap dan penantian kami. Seorang buruh ayah yang bekerja di pabrik terengah – engah. Membungkuk dan menumpu badannya di lutut. Lalu mengelus – elus dadanya. Dialah yang menyampaikan petir itu kepada kami. Seolah terhenti nafas dan segala anganku.
“juragan tewas kecelakaan ketika hendak menuruni tebing. Mobilnya masuk kejurang, dan meledak!”.
Seketika aku terhenyak. Kini rasa kegembiraan diselimuti rasa takut yang mendalam. Takut kehilangan sosok ayah tercinta yang kami banggakan. Keesokan harinya, ayah dimakamkan di tempat pemakaman di sebelah makam nenek, kakek dan adik tercintaku, Lara. Tuhan menyayanginya. Hingga Tuhan tak mau Lara ternodai oleh nafsu didunia. Ia hanya berkesempatan menghirup oksigen dalam beberapa saat. Setelah itu, ia pulang. Kini kami harus hidup sendiri. Rumah, pabrik, serta aset berharga lainnya telah disita untuk membayar hutang – hutang pabrik.

Ayah, seandainya saja ayah masih disini, mungkin sekarang yang dapat Ayu rasakan adalah kehangatan dan kasih sayang dari kalian. Bukan rasa duka yang mendalam. Seandainya kita masih diberi waktu lebih lama lagi untuk berkumpul bersama lagi, Ayu tidak akan mengecewakan ayah. Ayu akan jadi anak yang berguna. Dan Kakak, kapan kakak kembali. Sudah lama kiranya Ayu tak melihat kakak disisi Ayu. Semenjak kepergian kakak, Ayu jadi kesepian. Tak ada lagi yang mengajak Ayu bercanda, tertawa, cerita bersama. Juga saat kakak mendapatkan pacar baru. Kakak selalu cerita kepada Ayu. Apakah kakak sekarang tahu, ayah sudah tak ada lagi diantara kami. Harusnya kakak yang meneruskan ayah. Ayu rindu pada senyum sapa kakak saat pagi hari kakak membangunkan Ayu. Seolah begitu besarnya kasih sayang yang Ayu dapat dari seorang kakak yang Ayu punya. Lalu pada ibu. Kakak selalu membuat ibu tertawa. Pada Anggi. Sikap kekonyol – konyolan kakak yang membuat kami makin sayang pada kakak. Tapi, semenjak kejadian malam itu, Ayu sangat kecewa pada kakak. Ayu tak menyangka sekeji itu perbuatan kakak dibelakang kami. Padahal Ayu percaya bahwa kakak adalah kakak yang baik. Bukan seperti yang lain. Tapi ternyata sama. Apa kakak tahu? Bahwa semenjak pertengkaran kakak dan ayah malam itu membuat Ayu sangat terpukul. Dan saat Ayu melihat kakak merangkul seorang anak gadis, dan kakak pergi tak lagi kembali sampai sekarang. Entah siapa. Tapi asal kakak tahu, ayah tak sepenuhnya membenci kakak. Usaha ayah mencari kakak begitu besar. Kakak tak pernah tahu  itu. Hingga akhirnya ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Kakakpun tak sempat mengucapkan kata maaf pada beliau. Sungguh, Ayu sangat berharap kakak kembali kepelukkan kami. Meskipun tanpa ayah. Kami kehilangan dua malaikat pelindung yang perkasa. Tuhan, jika memang kau izinkan, kembalikan kakak pada kami. Kami masih menanti dan merindukannya. Sungguh sangat menyayangi mereka. Dan jagalah Lara disana agar kelak saat ia kau turunkan lain waktu, ia bisa jadi anak yang berguna dan baik.
Akhir dari goresan pena bertinta keemasan hadiah ayah, dan lembar diary kado ultahku yang ke-17 dari kakak. Sebelum esoknya kami pergi meninggalkan rumah tercinta. Dimana terlukis beribu kenangan. Manis dan pahitnya dalam kebersamaan. Tak kuasa kutahan tangis kesedihanku dalam kelam malam dan dinginnya angin yang mengiring hujan.
***

HUNTING TA


Kelas Semester 2 Telekomunikasi A
Politeknik Negeri Sriwijaya 2012


Ini video gw buat dari setumpukkan foto2 narsis kita pas hunting ke Bukit Siguntang, Jumat, 29 Maret 2013.
Inget gak pas mobil nya Umi (Intan Nurjannah) mogok pas mau berangkat ke TKP? haha.

Di perjalanan kali ini ada Dessy Sylvyanti, Mahayu Putri Nauly, Puteri Wijayanti, Ika Suryani, Vennytha Virgocha, Rizky Novianti, Widia Witrianti, Melati Puspitasari, Uyun Lestari, Yumarlia Okimah Mona, Suci Rahmawati, Ayu Erika,dan Pebrika Aryani.

Nah, ada 2 anggota kita yang gak ikutan, sedihnyaa.. Kurnia Zailani dan Yoan Dita Andini.
padahal pas buat Plan buat hunting kemaren, mereka berdua pada semangat -_-

Tapi gpp lah..
Yang penting HAPPY !!! :D