Rabu, 10 April 2013

CERPEN : Semua Tentang Kita (Part 3)


Keesokkan harinya kami berkemas – kemas untuk pergi. Entah kemana arah dan tujuannya. Kami sendiri tak tahu. Asalkan bisa berlindung dari panas dan hujan, serta gangguan – gangguan makhluk jahat. Terutama Anggi. Fisiknya yang masih lemah tak memungkinkan kami untuk menempuh perjalanan ke Sungai Lilin. Tempat dimana pertama kali aku melihat dunia. Disana masih berdiri rumah kami yang lama. Sudah agak reyot memang. Tapi setidaknya masih bisa untuk berteduh dan berlindung.
Akhirnya kami putuskan untuk menginap dirumah bu Weni. Salah satu kerabat bunda. Untungnya beliau mengizinkan. Kami bermalam disana. Bu Weni tinggal bertiga. Suaminya telah tiada. Ditemani kedua anaknya yang masih berumur setengah baya. Laki – laki dan perempuan. Kami tak hanya tinggal. Tak jarang bunda membantu bu Weni mengerjakan pekerjaan rumahnya. Aku juga ikut membantu. Tapi hanya terkadang saja. Karena biasanya aku mengasuh Anggi. Kedua anaknya tidak nakal. Mereka sangat baik. Kadang menemani aku bermain bersama Anggi. Kini, sudah hampir 3 minggu kami tinggal dirumah bu Weni. Bu Weni mengizinkan kami tinggal bersamanya. Tapi bunda menolak. Karena bagaimanapun kami harus kembali ke tempat kami di Sungai Lilin.
Hari ini kami berkemas barang untuk pergi. Walaupun bu Weni memaksa kami untuk tetap tinggal, tapi bunda tetap ingin kembali ke Bogor.
“jika kalian disana kesusahan, kembali saja kemari. Kita berteman akrab sejak lama. Jangan sungkan bila butuh bantuanku. Karena bagaimanapun juga keluargamu telah banyak berjasa membantu keluargaku. Maaf kalau perlakuanku ataupun anak – anakku tak baik pada keluargamu. Hati – hati. Selamanya aku tak akan melupakan kalian semua.”
Isak tangis bu Weni dan Bunda pecah. Aku ikut terharu dan memeluk kedua anak bu Weni. Dinda dan Dandi. Tanda perpisahan tiba.
“Iya Wen. Kamu juga teman terbaik aku selamanya. Maaf juga kalau selama aku tinggal disini, aku selalu menyusahkanmu dan anak – anakmu”.
“Tidak, tidak. Aku tak merasa terganggu. Bahkan aku senang karena rumahku tak sunyi seperti biasanya.” Ujar bu Weni.
Dan terakhir mereka saling berpelukan sebelum masuk ke dalam mobil travel yang kami pesan.
***
Kami sampai dirumah lawas kami. Dengan tembok kuning dan jendela serta pintu yang berlis hijau. Capek sangat terasa disekujur badan. Semuanya tertutup debu. Ditambah lagi serangga – serangga nakal dan kecoa yang tanpa seizin kami tinggal dirumah. Aku masih ingat saat – saat bahagia bersama ayah, juga kakak disetiap sisi ruang dalam ruang itu. Pahit manisnya, dan semua canda serta tawa yang meramaikan suasana di malam hari.
Hari pertama, aku dan bunda hanya membersihkan bagian dapur dan kamar saja. Karena tak sempat tuk membersihkan ruang lainnya. Lelah sedikit demi sedikit membelenggu sekujur tubuh kami. Apalagi Anggi yang mulai sesak nafasnya karena terlalu banyak debu. Karena merasa kurang nyaman, kami akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah bu Ningsih. Tetangga sebelah rumah. Ia tinggal hanya berdua. Ia dan anak bungsunya yang baru berusia 3 tahun. 2 anak perempuannya yang lain tinggal di Palembang bersama suami masing – masing.
Malam itu terasa cepat berlalu. Karena lelahnya hari yang menyita segala kekuatan kami. Hingga saat hendak tidur lelap malam itupun, aku sempat menangis. Teringat sosok sang ayah yang selalu menemani ibu tidur. Aku yang selalu diberi nasehat ayah sebelum tidur. Mimpi – mimpi indah ayah yang masih tengiang dibenakku, dan segala harapan ayah untuk esok hari,  sungguh indah. Namun pilu. Kuraih buku diary dari dalam tasku.
Malam ini terasa sangat hampa tanpa kehadiran malaikat pelindungku disini. Bulan dengarkan lantunku… aku ingin engkau tahu, ku kan selalu merindu. Hilangkan rasa letihku. Aku yang selalu rindukan tawa candanya dalam hatiku. Masih ingat ku saat dimana aku merasakan hangatnya peluk darinya.
Aku ingat saat ia terbaring sakit. Rintihnya sungguh memilukan hatiku. Ingin aku menciumnya. Dan ucapkan cepat sembuh. Namun sungguh, sekalipun tak pernah kulakukan. Walau kedua tanggannya t’lah menyambutku tuk mendekapnya.
Tuhan, sekarang ia telah tiada. Sosok ayah yang selama ini aku banggakan. Maafkan Ayu ayah. Ayu durhaka pada ayah. Ayu jahat sama ayah. Tak mau menjaga  ayah dikala sakit, tak mau menurut kata ayah.
Andai ayah masih disini, Ayu ingin sekali saja… walaupun hanya sedetik tuk ucapkan maaf yang sebesar – besarnya untuk semua kesalahan Ayu pada ayah. Bahkan saat ayah sedang bekerja keras mencari nafkah, Ayu tak pernah sedikitpun berfikir betapa susahnya ayah tuk menafkahi keluarga. Peluh, keluh, kesah yang ayah rasakan, Ayu tak pernah fikirkan itu.
Ayu ingat saat Ayu terbaring sakit, ayah seperti orang yang kebakaran jenggot! Seakan – akan ayu ini adalah nyawa ayah. Kesana – kemari mencari obat untuk Ayu. Namun apa yang Ayu pernah lakukan pada ayah, adalah hal yang sangat mengecewakan hati ayah. Tiba saat ayah yang sakit, Ayu hanya ucapkan… Ayah sakit apa? Cepat sembuh ya!  sungguh, tak terfikir Ayu untuk berusaha mencarikan obat, ataupun memanggil dokter ataupun bidan untuk mengobati ayah. Ayu selalu memberatkan semua pada ibu yang kian hari makin lemah.
Maafku sekarang sudah tak guna. Hasratku telah mati karena harapku telah lenyap. Hanya dapat ngiang tiap kenangan dan memori tentang dirimu.

Bait terakhir ku gores ungkapanku pada diaryku, saat itulah ku terhenyak dari semua mimpi burukku. Kembali ku pada masa sekarang saat bunda usap pundakku dan meneteskan air mata.
Dan lembar terakhir album kenangan itu tertera sebuah harapan indah seorang pemimpin yang perkasa. Yang selama ini jadi peran utama dalam penantian panjangku.
“Selamanya kita akan hidup dihati masing – masing. Cintaku pada kalian selamanya. Sampai ku menutup mata”
Beserta sehelai foto berefek sephia ukuran 3R, ayah memeluk aku, Rendy kakakku, Bunda, Anggi, dan Lara seusai Lara dilahirkan. Itulah pertama kali dan terakhir kalinya keluarga kami utuh dan berkumpul bersama dalam satu cinta penuh kasih. Dan aku akan tetap menanti, ‘tuk lampiaskan rindu yang selama ini terpendam. Karena semua yang telah terjadi begitu sulit tuk direlakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar