Waktu demi waktu berlalu, kini aku telah jadi
dokter spesialis hati. Seperti yang sudah dijanjikan. Aku mengelola rumah sakit
ayah di Singapura. Entah apa yang aku pikirkan. Aku meninggalkan semuanya dan
pindah ke tempat yang bahkan belum aku kenal. Aku meninggalkan ayah dan ibu di
Nusantara, teman – teman, dan kenanganku.
Pagi ini
cuaca buruk. Untung saja tidak hujan. Namun gerimis mengundang. Aku telat
karena macet dijalan. Mobilku mogok. Jadi harus dibawa kebengkel dahulu. Aku
tengah menangani satu pasien. Yang aku belum tahu siapa. Baru hari ini hendak
diberitahukan oleh dokter.
Kamar
177 di lantai 3. Saat masuk, aromanya sedap. Tidak seperti kamar pasien yang
lain. kulihat disekitar. Jelas saja, diruangan ini banyak tanaman hidup bunga –
bungaan. Dokter bilang keluarganya rajin membawakan pasien bunga. Termasuk
bunga dalam pot dan diletakan didalam ruang rawat.
Aku
melihat sekitar.
“pasiennya mana dok?”
“Aku disini!” suara seorang perempuan.
Dari teras. Kulihat ia sedang menyirami bunga – bunga tersebut.
Aku mendekatinya. Ia berbalik dan menatap kearahku. Mitha! Ha?
“Apa kabar dokter Rio?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku hanya bisa diam. Menatap wajah yang ada dihadapku sekarang ini.
Mungkinkah? Aku berjalan mendekati. Kutatap
kedua matanya,
“Mitha?” tanyaku terpaku.
“em. Lupakah? Haha... aku sudah mendengar semua dari dokter Hans.
Ia bilang dirimu yang akan merawatku. Jadi aku bersemangat hari ini.” Kulihat
air matanya menetes.
Aku tetap diam. Kemudian ia beranjak dan mendekapku. Menyandarkan
-entah bahagia atau sedihnya aku tak tahu- dibahuku. Aku yang masih tak percaya
atas apa yang ada didepanku, membelainya.
“Maafkan
aku yang telah pergi tanpa memberi kabar padamu. Waktu itu aku sudah tidak tahu
harus apa lagi. Dokter bilang kanker hatiku ini sudah stadium akhir. Dan umurku
tinggal 5 bulan lagi. Makanya, selama 5 bulan itu aku habiskan waktu bersamamu.
Diakhir bulan kelima, hari Kamis, aku ingat betul. Itulah saat terakhir aku
menunggumu sepulang sekolah. Aku dan ayahku menunggumu digerbang. Tak lama
setelah itu, aku batuk darah lagi. Ayahku memutuskan untuk membawa aku pulang.
Namun aku sudah tak sadarkan diri. Ditambah lagi aku menderita lemah jantung.
Lantas, ayah membawaku langsung kerumah sakit. Aku koma selama
hampir 2 tahun. Dokter bilang, kankerku ini baru stadium 3. Waktu itu
kesalahan. Kenapa aku bisa sampai koma? Dokterpun tak tahu. Tak ada satupun
dokter yang bisa beri jawaban jelas. Ayahku mulai putus asa dan ingin
melepaskanku. Tapi ibu tak mau.”
“lalu?” tanyaku penasaran.
“Lalu
ayah memanggil nenekku yang seorang paranormal. Nenekku mengatakan bahwa aku
tidak hidup. Tapi aku juga tidak mati. Aku kehilangan arwah. Seperti tersesat.
Aku merasa duduk disebuah danau. Tempat dimana kita terakhir kali bertemu.
Sangat lama aku disana. Seperti waktu tak ingin memutarkan siang dan malam.
Datar seperti itu saja. Kemudian aku lihat dirimu. Sedang bicara sendiri. Aku
juga lihat kau berjanji ditepi danau, meneriakkan angin, air, alam, seperti
orang gila.”
Aku tak kuat menahan tangis. Air mataku menetes tanpa kusadari.
Menyesal, terharu, bahagia, entah air mata apa yang aku jatuhkan saat ini.
Melihat senyumnya lagi, mendengar suaranya lagi, benar – benar aku tak percaya.
Kini, hari – hariku kembali hidup. Biarlah kuhabiskan waktu demi bersama Mitha.
Hari
demi hari berlalu, meninggalkan semua tangis dan tawa yang pernah dilalui. Tak
terasa, sudah 6 bulan berlalu semenjak pertemuan aku dan Mitha. Setelah hari
itu, kami selalu bersama. Aku rajin kerumah sakit karena ingin menjenguknya.
Hari ini Mitha mengajakku keluar untuk jalan – jalan. Aku sudah bilang untuk
tidak keluar. Namun Mita tetap memaksakan diri hendak keluar. Orangtuanya juga
sudah peringatkan. tapi ia tetap bersikeras.
Kami pergi ketaman disebelah rumah sakit. Disana ada sebuah danau
buatan. Dulu, aku yang sengaja meminta untuk dubuatkan danau disekitar rumah
sakit.
Kami
duduk dibawah pohon. Udaranya sejuk dan angin bertiup sedang bersahabat. Mitha
terlihat nyaman dengan suasana ini.
“Mitha, kelak saat nanti kamu sembuh, aku ingin kamu jadi milikku
selamanya. Dan aku akan jadi milikmu juga selamanya. Hm.. bahagianya. Kamu tahu
tidak, benih – benih cinta yang dulu kamu sebar, kini telah jadi pohon. Hijau
dan lebat daun dan bunganya. Namun aku ingin lekas berbuah. Agar kita dapat
memetiknya bersama – sama. Bagus kan? Kamu bisa bayangkan kan, Mitha??”
“Mitha, Mitha, Mitha...?”
Aku melihat wajah mita telah pucat dan tak ada denyut
jantung lagi.
“tidak... TIDAK... MITHA... jangan pergi...!!! jangan tinggalkan
aku sendirian.!!! MITHAAA...!!!!”
***
4 tahun kemudian
“Aku pulang...!”
“Eh... Rio, sini nak!” panggil ayahku.
Aku lihat keluarga Om Coro dirumah. Beserta kedua putrinya. Satu
dewasa, dan satu lagi masih anak – anak.
“Ada apa yah?” tanyaku sambil mencium tangannya.
Ayah tak langsung menjawab pertanyaanku. Ia kembali bicara pada Om
Coro.
“Kenalkan, ini Rio. Anak sulung saya. Dia seorang dokter spesialis
hati.” Ujarnya sambil menarikku duduk disebelahnya.
“wah, wah, wah, gagahnya anakmu satu ini. Padahal dulu masih imut
dan lucu. Sekarang, sungguh tampan.” Ujarnya sambil menatap tajam kearahku.
“jangan terlalu memuji om. Biasa aja. Namanya aja pertumbuhan dan
perkembangan” sanggahku sambil tersenyum – senyum muka sinis.
“tapi bener kok kata papa!” ujar Ara, putri sulung om Coro.
Aku
tahu maksud dari kedatangan Om Coro dan keluarganya kemari. Mereka ingin
menyebar benih cinta didasar hatiku. Namun aku tahu. Benih itu tak akan bisa
tumbuh. Karena didasar hatiku telah tumbuh banyak pohon cinta yang tinggi nan
rimbun bersama Mitha. Akarnya kuat nan dalam. Karena setiap hari kupupuk dengan
kesetiaan. Kemudian dikuncup – kuncup pohonnya, kusiram secara rutin dengan
kasih sayangku. Dan pada akhirnya akan berbunga, memberikan pesona yang indah
berupa hiasan bunga dibalik dedaunannya.
Pohon cintamu kini
tumbuh semakin besar. Aku takut, dasar hatiku tak kuat menahan akar – akarnya
yang semakin kuat dan besar. Andai kau masih disini. Aku butuh hatimu, agar
pohon ini mendapatkan tambahan tempat untuk tumbuh. Tahukah wahai bidadari
hatiku. Aku rindu mendengar suaramu. Aku ingin bernyanyi dibawah pohon cinta
ini berdua. Disana telah kuukir nama kita. Dan telah kubuatkan rumah yang
berdindingkan kesabaran dan ketulusan. Kemudian atapnya kurajut dari benih –
benih yang gugur. Agar kelak suatu nanti, kau bisa lihat bagaimana perjuangan
benih tersebut untuk dapat tumbuh didasar hatiku.
Alam,
kini bukan karena penantian lagi ia pergi meninggalkan aku. Ia pergi karena
mencintaiku. Namun aku harus bagaimana? Hatiku telah terpenuhi oleh cintanya.
Aku tak dapat begitu saja mencabut pohon yang telah berakar dalam dan kuat dari
dasar hatiku, kemudian menggantinya dengan yang lain.
Empat tahun berlalu sudah, semenjak kepergian Mitha. Hatiku masih
belum bisa menerima cinta lain. Walau banyak benih lain yang lebih baik, namun
hati ini selalu menolaknya. Cinta ini terus tumbuh dalam diriku. Semakin hari
semakin aku memendam kerinduan padanya, rasa cinta itu semakin kuat dan dalam.
Dalamnya akar pohon cinta ini membuat ia tak akan pernah tumbang. Sampai
kapanpun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar