Hari itu, ketika untuk kesekian kalinya air mataku tertahan di dada, berusaha membohongi mata agar jangan mengalirkannya begitu saja, berusaha membohongi otak bahwa psikisku baik-baik saja. Dan…ah, sesak itu bergumul di jiwa….
Siang itu, aku melihat ibu sibuk menata tumpukan kertas yang semuanya ia keluarkan dari dalam tas kerjanya. Ia baca satu persatu untuk memastikan bahwa kertas-kertas itu memang makin penting. Kulihat banyaknya rekening listrik dan PDAM yang ibu kumpulkan di dalam tas itu, entah mengapa tak di buang.
Sebagai menteri keuangan dari keluarga kecil yang di bangun susah payah dengan ayah, mungkin semua dokumen kecil itu penting, untuk dilaporkan pada kepala keluarga di rumah kita.
Setelah puas memandangi jari jemarinya yang sibuk membolak-balik kertas, sambil tiduran di kasur, aku bertanya padanya
.
“Pernahkah Ibu punya teman yang sangat dekat?”
Ia berhenti sejenak, berpikir, dan tanpa curiga, balik membalas pertanyaanku.
“Teman apa? dulu? Kalau teman main, ada beberapa…,” ujarnya.
“Ya, teman curhat, semacam itu,” lanjutku.
Masih tetap dengan memandangi tumpukan kertas lengkap dengan tulisan kecil-kecil yang nyaris hilang itu, Ia menjawab santai.
“Ibu nggak punya. Ibu selalu cerita sama embah, atau sama bulik (adik ibuku, tepat 2 tahun lebih muda).” Aku manggut-manggut.
“Kenapa?”
“Lha buat apa? Toh, akhirnya Ibu hidup, menikah dengan Bapak. Semuanya Ibu jalani bersama Bapak. Semua cerita hidup Ibu bagi sama Bapak. Setelah menikah, yang kita butuhkan ya cuma suami kita kok….”
Aku terdiam. Mataku mulai berkaca-kaca. Ya. Toh aku masih punya dirimu, ibuku... dan dia, adikku.
Ah, ya.
Dengan begitu, seharusnya aku tak pernah perlu terluka...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar