Rabu, 10 April 2013

CERPEN : Semua Tentang Kita (Part 2)


Saat itu angin bertiup merdu. Seperti biasa dalam suasana senja hari. Namun angin itu membawa polusi serta gas pencemar lainnya yang diciptakan oeh saudara – saudaraku. Aku tinggal di salah satu kompleks perumahan di Surabaya.
Sore itu, Aku memeluk hangat simungil Anggi, adikku yang masih balita di teras atas. Rumahku berlantai 2. Sayup – sayup matanya mulai terpejam, dengan iringan lagu sendu yang terucap dari mulutku. Kepalanya terkantuk – kantuk kekanan dan kekiri. Geli aku dibuatnya. Hingga akhirnya dia sudah benar – benar siap untuk diistirahatkan. Pelan – pelan ku rebahkan tubuh kecilnya yang masih rentan ke ranjang berpagar dihiasi segala bentuk mainan khas balita. Diatas kasur empuk yang dulu juga pernah kukenakan. Terdengar suara bunda memanggilku dari dapur.
“Ayu..Ayu…!”
Nadanya sedikit naik. Ya, karna itulah bundaku. Suaranya memang agak kecil. Jadi jika memanggil harus sekuat – kuatnya.
“iya bunda..”.
Aku segera turun ke lantai bawah. Mencari sumber suara kesegala arah tuju yang dapat kupandang.
“ada apa bun?”.
Bunda menoleh kearahku dengan muka melas. Ia terduduk di sudut dapur yang masih berantakkan dengan segala jenis peralatan memasaknya. Ia merintih memegangi tangannya.
“ya Allah bunda! Apa yang terjadi? Tangan  bunda? Ya ampun, berdarah!”
Bunda tak menjawab. Ia merintih kesakitan. Dengan tetap memandangiku.
“Ayu ambil kotak obat dulu ya bun, Bunda tunggu disini!”.
Dengan segera kubantu bunda berdiri dan kuraih sebuah kursi agar dia dapat duduk bersandar dengan nyaman. Tangannya teriris pisau. Dalam dan lebar. Hingga daging segar dan tulang putihnya tampak olehku.
Beberapa seketika aku kembali dengan membawa sebuah kotak bertanda plus berwarna merah. Kuraih sehelai kapas untuk menghapus darah yang berceceran di tangan bunda. Lalu kuambil sebuah botol kecil berwarna putih bertuliskan alcohol.
“Tahan sedikit ya bunda.”
Aku mulai membasahi luka bunda dengan alcohol itu. Bunda menjerit. Dan ia hendak menarik tangannya dari peganganku.
“bunda tahan!”
“sakit Yu..!” ujarnya.
“Iya. Tapi hanya sebentar bunda. Biar lukanya cepat sembuh”. 
Bebepa waktu kemudian aku telah selesai membalut luka bunda dengan baik dan rapi. Sedikit pengalaman. Karena semasa SMA dulu aku bergabung dalam organisasi PMR. Dan alhamdilillah aku dipercaya sebagai ketuanya.
Ah…sudahlah! Itu dulu. Sekarang sudah tak lagi. Aku lanjutkan pekerjaan bunda didapur. Ya, walaupun aku tak begitu pandai seperti bunda, tapi sedikit – sedikit aku bisa. Ditemani bunda untuk membimbingku memasak. Seberapa banyak aku harus memasukkan bumbu, memasukkan garam, penyedap rasa, dan sebagainya.
Selesai sudah pekerjaanku didapur. Satu lagi, yaitu membuatkan ayah secangkir kopi hangat. Kebiasaan ayah yang tak dapat dihindari tiap pagi dan malamnya. Kini sudah menunjukkan pukul 17.13 WIB. Aku bergegas mandi. Begitu pula bunda. Ia bergegas memandikan Anggi sebelum terlalu malam. Setelah mandi, kami biasanya duduk di teras depan lantai bawah untuk menanti kedatangan ayah.
Lama kami menanti. Namun yang dinanti tak kunjung datang. Kemudian, seolah disambar petir. Hancur berkeping – keeping segala harap dan penantian kami. Seorang buruh ayah yang bekerja di pabrik terengah – engah. Membungkuk dan menumpu badannya di lutut. Lalu mengelus – elus dadanya. Dialah yang menyampaikan petir itu kepada kami. Seolah terhenti nafas dan segala anganku.
“juragan tewas kecelakaan ketika hendak menuruni tebing. Mobilnya masuk kejurang, dan meledak!”.
Seketika aku terhenyak. Kini rasa kegembiraan diselimuti rasa takut yang mendalam. Takut kehilangan sosok ayah tercinta yang kami banggakan. Keesokan harinya, ayah dimakamkan di tempat pemakaman di sebelah makam nenek, kakek dan adik tercintaku, Lara. Tuhan menyayanginya. Hingga Tuhan tak mau Lara ternodai oleh nafsu didunia. Ia hanya berkesempatan menghirup oksigen dalam beberapa saat. Setelah itu, ia pulang. Kini kami harus hidup sendiri. Rumah, pabrik, serta aset berharga lainnya telah disita untuk membayar hutang – hutang pabrik.

Ayah, seandainya saja ayah masih disini, mungkin sekarang yang dapat Ayu rasakan adalah kehangatan dan kasih sayang dari kalian. Bukan rasa duka yang mendalam. Seandainya kita masih diberi waktu lebih lama lagi untuk berkumpul bersama lagi, Ayu tidak akan mengecewakan ayah. Ayu akan jadi anak yang berguna. Dan Kakak, kapan kakak kembali. Sudah lama kiranya Ayu tak melihat kakak disisi Ayu. Semenjak kepergian kakak, Ayu jadi kesepian. Tak ada lagi yang mengajak Ayu bercanda, tertawa, cerita bersama. Juga saat kakak mendapatkan pacar baru. Kakak selalu cerita kepada Ayu. Apakah kakak sekarang tahu, ayah sudah tak ada lagi diantara kami. Harusnya kakak yang meneruskan ayah. Ayu rindu pada senyum sapa kakak saat pagi hari kakak membangunkan Ayu. Seolah begitu besarnya kasih sayang yang Ayu dapat dari seorang kakak yang Ayu punya. Lalu pada ibu. Kakak selalu membuat ibu tertawa. Pada Anggi. Sikap kekonyol – konyolan kakak yang membuat kami makin sayang pada kakak. Tapi, semenjak kejadian malam itu, Ayu sangat kecewa pada kakak. Ayu tak menyangka sekeji itu perbuatan kakak dibelakang kami. Padahal Ayu percaya bahwa kakak adalah kakak yang baik. Bukan seperti yang lain. Tapi ternyata sama. Apa kakak tahu? Bahwa semenjak pertengkaran kakak dan ayah malam itu membuat Ayu sangat terpukul. Dan saat Ayu melihat kakak merangkul seorang anak gadis, dan kakak pergi tak lagi kembali sampai sekarang. Entah siapa. Tapi asal kakak tahu, ayah tak sepenuhnya membenci kakak. Usaha ayah mencari kakak begitu besar. Kakak tak pernah tahu  itu. Hingga akhirnya ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Kakakpun tak sempat mengucapkan kata maaf pada beliau. Sungguh, Ayu sangat berharap kakak kembali kepelukkan kami. Meskipun tanpa ayah. Kami kehilangan dua malaikat pelindung yang perkasa. Tuhan, jika memang kau izinkan, kembalikan kakak pada kami. Kami masih menanti dan merindukannya. Sungguh sangat menyayangi mereka. Dan jagalah Lara disana agar kelak saat ia kau turunkan lain waktu, ia bisa jadi anak yang berguna dan baik.
Akhir dari goresan pena bertinta keemasan hadiah ayah, dan lembar diary kado ultahku yang ke-17 dari kakak. Sebelum esoknya kami pergi meninggalkan rumah tercinta. Dimana terlukis beribu kenangan. Manis dan pahitnya dalam kebersamaan. Tak kuasa kutahan tangis kesedihanku dalam kelam malam dan dinginnya angin yang mengiring hujan.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar