Selasa, 30 Oktober 2012

CERPEN - Dalamnya Akar Pohon Cinta (Part 1)

Karya : Ika Suryani



Cinta merekah bagai mawar merah dihatimu. Mahkota merahnya seperti kacamata hati yang menutupi kerinduanmu. Sarat dengan kasih sayang nan duniawi yang menjanjikan kebahagiaan. Aroma cintanya laksana parfum alami yang membuat pasangan ingin saling memiliki. Tajam durinya seakan tertutupi, sehingga sakit yang ditimbulkannya pun tidak pernah tersadari.  Sebuah puisi dari Ali Akbar Navis yang kubacaan untuk Mitha.
Mitha tertidur pulas. Leganya melihat ia terlelap tenang. Tak perlu kau khawatir. Aku akan selalu bersamamu. Karena benih – benih cinta yang berada didalam hati ini akan segera bersemai, bertunas, lalu munculah akar yang menuju dasar hati. Akar tersebut berwarna putih susu. Semakin lama, ia tumbuh semakin kuat, besar dan kokoh. Bunga – bunganya pun akan lekas bermekaran.
***
          Sore itu aku dan Mitha tengah duduk dipinggir danau. Meresapi dan merasakan desis angin yang berlalu. Bunga – bunga bermekaran dibibir danau. Membuat air berlomba menjilat ketepian demi dapat menyentuh bunga itu.
          Sayup mata Mitha membuatku tenang. Rambunya yang lurus membuat aku tertegun. Namun sejenak aku cemburu. Aku cemburu pada angin yang seenaknya saja berhembus disela rambutnya. Mendahului sebelumku dapat membelainya. Saat – saat seperti inilah yang membuat aku enggan untuk cepat berlalu. Biarlah waktuku terhenti sejenak hari ini untuk dapat bersamanya.
          Lama aku termenung, melihat sandiwara air, angin, dan bunga – binga ditepi danau. Banyak yang belum aku ketahui dari semua ini. Mungkin akan jadi PR bagiku dikemudian hari.
          “Hei!” dikejauhan Mitha memanggilku. Entah kapan dia sudah berada ditepi danau.
“Mitha! Kamu ngapain disitu?” teriakku.
“Menanam cinta sejati!” jawabnya.
Menanam  cinta sejati?
“Mitha! Kamu sudah gi...” belum sempat aku membalas pekataannya, ia telah lebih dulu menghilang dirimbunnya pepohonan disekitar danau.
          Sudah 17 tahun lebih aku mengenal Mitha. Rasanya tak ingin berpisah lagi dengannya. Dari kecil, sampai dewasa ini dialah yang setia menemani aku. Aku tak bisa bayangkan bila aku sampai kehilangan dia.
          Sepulang sekolah, aku menunggu Mitha didepan gerbang. Namun, lama aku tak melihat Mitha. Biasanya ia selalu menungguku jika ia pulang duluan. Kupikir ia belum pulang. Hari telah menunjukkan pukul 3 sore. Mana mungkin ia belum pulang. Sebentar lagi sekolah akan tutup. Mungkin ia ada keperluan mendadak, sehingga pulang duluan. Tapi kenapa tidak kirim pesan? Ah... sudahlah!
          Aku pulang sendirian. Biasanya sebelum pulang kerumah, aku dan Mitha mampir ke danau dulu. Sejak kemarin sore, aku belum melihat Mitha. Hari inipun tidak. Anak itu seolah menghilang tanpa jejak. Tiba – tiba muncul perasaan takut. Takut kehilangan sosok Mitha yang sangat aku cinta. Namun, cinta itu belum sempat aku ungkapkan.
          Detik demi detik berlalu, menitpun enggan menunggu, jam berganti jam, hingga hari mengikuti, minggu, bulan, bahkan tahun kini pun ikut berganti. Namun Mitha, belum juga aku temukan. Tak terasa, 4 tahun sudah aku kehilangan Mitha. Sejak kepergian Mitha, pintu hatiku telah kugembok untuk cinta yang lain. aku masih menunggu Mitha. Berharap ia akan menanam cinta sejatinya padaku.
          Angin, aku mohon, bawalah aku menemui Mitha. Kau yang selalau mencuri kesempatanku untuk membelai rambutnya juga wajahnya yang ayu. Anginpun menjawab, aku tak kuat untuk bertiup melawan arus untuk menemuinya. Kutanya pada air, arus apakah yang dimaksud oleh angin? Airpun menjawab, arus kehidupan yang kian hari semakin mencekik perekonomian. Bahkan akupun hampir mati karenanya. Aku belum puas dengan jawaban mereka. Lalu kutanya pada bunga – bunga ditepi danau. Kemana jantung hatiku pergi sore itu? Bunga hanya menggeleng. Kemudian kutanya pada alam. Alampun menjawab, mungkin penantian yang terlalu lama telah membuat ia mengambil keputusan tentang kata TIDAK baginyalah yang membuat ia pergi dan berpaling. Kini ia pergi nan jauh. Aku kembali bertanya. Mengapa ia tak meninggalkan pesan atau mengucapkan selamat tinggal sebelum pergi? Alampun kembali menjawab. Ia telah lama berusaha menimbun penantian itu. Dan saat ia yakin bahwa ia bisa, ia tak mau berkata apa – apa. Karena takut, benih yang telah ia timbun akan tumbuh kembali.
          Aku menangis. Aku menangis dalam kesalahan dan kebodohanku. Takut, takut akan kecewalah yang akan aku alami membuat cinta itu juga takut. Takut, kelak ia dapat menyakiti hatiku. Namun... sudahlah. Kini aku akan hidup. Hidup dalam hidup yang sehidup – hidupnya. Biarlah kenangan Mitha yang terindah terukir indah didinding hatiku.
          Penyesalanku tak membuatku kalut akan dunia yang semakin gelap. Justru aku semakin giat membuat lentera agar hidupku tetap terang. Kini aku telah menyelesaikan  kuliah di Fakultas Kedokteran. Saatnya melanjutkan kuliah menjadi dokter spesialis. Masih banyak hal yang harus aku pertimbangkan dalam memilih spesialis dokter apa.
          Hal tersebut membuat aku benar – benar bingung. Disamping memikirkan masa depan, aku juga harus mempertimbangkan biaya yang harus dikeluarkan. Aku tak mau ambil pusing. Seperti biasa, saat aku benar – benar kosong, aku pergi ke danau. Mencari inspirasi dari jejak teman lamaku yang kian pudar. Aromanya kini berubah. Bau dedaunan yang biasa menghiasi, kini berubah jadi asap kendaraan. Benar kata air, arus itu semakin mencekik. Hingga cekikkannya sampai kedalam jantungku.
          Setelah lama aku duduk termenung disana, aku memutuskan untuk mengambil spesialis dokter gigi. Entah mengapa. Mungkin belajar dari waktu aku kecil dulu. Dulu, bahkan satupun gigiku tak tersisa. Karena aku terlalu sering mengkonsumsi permen dan makanan gula – gula lainnya.
          Dalam pemilihan jurusan ini, aku diberi banyak pilihan. Hingga membuat aku melepaskan spesialis gigi sesuai rencanaku. Karena orangtuaku punya rumah sakit di Singapura yang cukup bagus. Aku diberi penyuluhan disana sebelum aku melanjutkan kuliah dokter spesialis. Tentang banyak hal. Rencanaku setelah tamat kuliah nanti, aku ingin bekerja di rumah sakit milik orang tuaku saja. Sekaligus melanjutkan rumah sakit ini menggantikan ayahku.
          Mendengar niatku yang akan menggantikan ayahku, salah satu dokter senior disana langsung memberikanku beberapa pilihan. Termasuk contoh pasien yang akan aku tangani kelak. Karena kualitas rumah sakit ini bagus, banyak orang dari manapun berobat kesini. Rata – rata orang – orang yang penyakitnya sulit disembuhkan atau butuh waktu lama untuk menyembuhkannya.
Aku melanjutkan kuliahku di Singapura. Karena aku masih ragu – ragu, dokter pelatihku pun langsung mengajakku melihat pasien secara langsung. Kebanyakan dari mereka mengidap penyakit kanker, lemah jantung, gagal ginjal, dan sebagainya.
Aku membaca data – data pasien yang dirawat di rumah sakit ini.         
“Dokter, boleh saya lihat langsung pasien – pasien ini?” pintaku penuh harap.
“Oh, silahkan. Mari, saya antar.” Jawab dokter mempersilahkan.
“terima kasih dok.”
“sama – sama.”
Dokter mengantarku kesetiap kamar. Sebagian besar mereka berasal dari nusantara. Lelah sekaligus sedih, baik karena pesiennya banyak, juga karena kisah perjuangan mereka. Kesetiaan keluarga, kasih sayang, dan cinta.
Memang, cinta menyuguhkan berbagai macam kisah perjuangan yang tak akan pernah terpadamkan. Cinta bisa membawa seseorang berada pada jalan yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Cinta juga menguras berbagai berbagai pengorbanan dalam setiap jengkal langkah. Sama halnya seperti cinta yang aku alami. Seperti akar pohon beringin saja kisah cintaku ini. Menggantung tanpa ujung yang jelas.
Tiba aku dikamar terakhir. Kamar paling ujung. Pasiennya mengidap lemah jantung dan kanker hati. Sungguh tragis. 2 penyakit ganas sekaligus menyerangnya. Memang dari luar fisiknya baik – baik saja, namun didalamnya, sakit yang luar biasa menyerang bertubi – tubi. Sangat sensitif  terhadap sedikit saja sentuhan. Seperti dalam dirinya sarang lebah. Tersentuh sedikit, dia bisa meyerangmu.
Gadis ini berumur 16 tahun ini sayup – sayup kulihat matanya yang dingin. Air mukanya yang polos dan pucat menambah kesan sedih yang luar biasa.
“Dokter, kelak aku ingin merawat pasien seperti ini.” 
“apa? Kamu yakin?” tanya dokter pembina meragukanku.
“saya yakin dokter” jawabku meyakinkan.
“baiklah kalau begitu. Jadi, kamu pilih spesialis apa?”
“Spesialis hati!”
“baiklah. Semua ada ditanganmu sendiri nak. Kamu yang akan menjalaninya. Semoga kau sukses!”
Setelah mendapatkan keputusan, aku pulang kenusantara untuk mempersiapkan kepindahanku ke Singapura. Tak akan ku pernah lupa, aku mampir ke danau seperti biasa. Perasaan gembira yang tak dapat aku curahkan dalam tindakan dan kata – kata.
“ANGIN...!!! AIR...!!! DENGARLAH! Benih cintaku kini telah hidup kembali. Aku tak kan bertanya lagi ataupun menyusahkan kalian lagi setelah ini. ALAM...!!! Benih cintaku ini akan kusebar didasar hatiku. Dan akan mempercantik dirimu. Ia akan tumbuh jadi pohon cinta yang punya akar yang kuat untuk menahan air mata dari tangisku, punya daun yang rimbun untuk menahan panasnya amarah, dan punya bunga yang indah nan semerbak baunya.”
Aku benar – benar akan meraih kembali cinta itu! Dan akan kubawa kembali bersamaku. Meskipun tanpa Mitha, aku harus tetap berjuang untuknya. Dengan begini, aku pasti akan menemukannya.
Sejenak hening. Kemudian angin bertiup kencang dan menyapu tubuhku. Gemercik air menjilat tepi danau dan terdengar riang, dedaunan bertepuk tangan, mahkota bunga – bunga bertebaran merestui kepergianku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar