Jumat, 17 Februari 2017

NYAWA-KU (Part 1)

Annual Training ITEUSS BTPN - Sukabumi, Mei 2016

Aku hanyalah sebuah raga. tanpa nyawa yang utuh. Aku hanya mengikuti langkah kakiku, lebih tepatnya aku mengikuti perasaan hatiku. entahlah apakah ini baik untuk dilakukan. Tapi aku tidak pernah menyesal untuk setiap perasaan yang aku ikuti.

Hei kalian!
Kalian yang selalu mengandalkan otak cerdas kalian.. Kadang aku sangat ingin menggunakan logika dan otakku secara bersamaan, tapi kenapa perasaanku kadang tak bisa diam saja. Logikaku selalu diam, tak merespon apa yang aku inginkan. sedangkan otakku bekerja setiap hari. semua yang aku inginkan dia tahu. tapi dia tak bisa berbuat apa apa. hanya bisa terus mendengarkan, dan terus mendengar. Lalu perasaanku, adalah sesuatu yang berbeda. tingkahnya tak bisa diam, lucu, ramai, ramah, semua ada padanya. kadang aku iri padanya yang bisa merasakan semuanya. Dia sanggup merasakan apapun itu bentuknya.

Lalu mengapa aku berpikir bahwa ini merupakan kisah cinta segitiga yang belum terselesaikan? antara Otak, Logika, dan Perasaan. apakah aku salah dalam memberikan penamaan? koreksi aku jika aku salah. karna aku hanya manusia biasa, yang mencoba untuk menjadi manusia luar biasa dengan tulisan yang sangat biasa.

Maaf jika kalian tidak mengerti. tapi aku tidak tahu, kemana aku harus berpihak. aku takut pada perasaanku, aku tak mau keluar dari zona nyaman ini. hanya saja otakku terus memunculkan gambaran - gambaran indah di luar sana yang tak bisa aku tahan untuk tak melihatnya dengan mataku sendiri. Lalu aku takut dengan logikaku yang mulai mengatur otakku, bagaimana jika ....... atau bagaimana jika ..... atau bagaimana jika....

apakah kalian tahu?
aku sangat muak. sampai sampai aku menyerah pada ketiganya. Namun justru aku akan mati. bagaimakah mungkin aku meninggalkan mereka jika ternyata, merekalah hidupku. merekalah anakku, dan merekalah nyawaku.

Bagaimana jika aku menyerah?
apakah dengan menyerah aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan? tentu tidak. Logika dan otakmu sudah menjawab pertanyaan itu sebelumnya.

Kali ini, apakah perasaanmu mempunyai sesuatu untuk ditunjukan kepadamu?
Ada. aku pikir ada. ada satu hal yang perasaanku ingin sampaikan. entahlah aku juga tidak begitu yakin. aku berharap hanya dapat mendengarkan satu dari 3 anakku itu. tapi kenyataannya mereka semua tidak ada yang bisa mengalah. hanya saja aku......

Kenyataan bahwa aku tidak dapat memberikan waktu dan porsi yang tepat untuk mereka bicara. Aku mungkin belum mempunyai wadah yang pas untuk mereka. Atau mungkin wadah itu belum siap. Atau mungkin aku salah memberi ukuran?
mungkinkah karena aku terlalu menuruti kehendak mereka? 
Berpikirlah positif dan rasakanlah, bahwa wadah itu belum sempurna.


Palembang, 17 Februari 2017
Ika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar